SkyLovers

Sebuah tulisan, sebuah cerita…

Pancasila 1 Juni 1945

2 Comments

PANCASILA 1 JUNI 1945

Pancasila

Pancasila

Tanggal 1 Juni mungkin tidak terlalu diingat-ingat oleh banyak orang Indonesia sebagai hari yang bersejarah dan penting. Padahal di tanggal itulah terdapat peristiwa mengenai lahirnya falsafah dasar negara ini yaitu PANCASILA. Ya, Pancasila yang selalu kita ucapkan pada setiap upacara bendera di sekolah-sekolah. Usut punya usut tanggal 1 juni ternyata pernah dihilangkan oleh pemerintahan Soeharto sebagai hari lahirnya pancasila (silakan dicek di gugel atau sumber lain mengenai kebenarannya) dan dikalahkan oleh 1 Oktober atau hari Kesaktian Pancasila. Menurut pendapat saya, mungkin hal itu terjadi (hilangnya 1 juni dari sejarah) karena adanya usaha-usaha untuk mulai menghilangkan atau meminimalisir peran Soekarno pada sejarah bangsa ini. Banyak sumber baik dibuku maupun di internet, bahwa telah terjadi pengarahan opini bahwasannya yang menggali Pancasila itu bukanlah Soekarno melainkan orang lain (cek gugel atau disini). Pada pemerintahan orde baru juga sempat dibentuk panitia lima yang beranggotakan orang-orang pendahulu republik termasuk Bung Hatta sebagai anggotanya untuk “memurnikan” Pancasila kembali.

Pada tulisan ini saya menyumbangkan sedikit artikel yang berkaitan dengan asal-usul Pancasila yang kiranya mungkin dapat menjadi salah satu sumber referensi bagi kaum muda seperti saya ini.  Sumber catutan kali ini berasal dari buku-buku Bung Hatta yang merupakan kawan dan lawan seperjuangan Bung Karno sekaligus Wakil presiden yang pertama Indonesia. Alasan kenapa saya menggunakan sumber dari beliau adalah karena beliau merupakan seorang yang walaupun berkawan dan kadang berlawanan dengan Bung Karno tapi tetap menjunjung tinggi kebenaran sehingga tidak ada tekanan atau tendensius apapun terhadap tulisan beliau.

Asal usul Pancasila pada awalnya berawal dari rapat BPUPKI pada sekitar bulan mei-juni 1945, dalam hal itu Bung Hatta menuturkan sebagai berikut pada buku “Bung Hatta Menjawab” :

“Dalam hal ini ada baiknya saya ungkapkan sedikit mengenai perumusan isi Pancasila yang diminta kepada kami Panitia 5. Yang penting bagi pendidikan ialah mengetahui proses terbentuknya Pancasila itu dulu, sampai menjadi perumusan yang sekarang. Dengan mengetahui itu akan terasa makna dan tujuannya. Perlu ditelaah secara mendalam apa maksud daripada Pancasila itu. Waktu membuat Undang-Undang Dasar kita tahun 1945, Dr. Radjiman, Ketua Badan Penyelidik usaha-usaha Kemerdekaan mengemukakan bahwa kalau kita akan mendirikan negara merdeka apa dasarnya. Banyak orang waktu itu menentang dengan alasan bahwa kalau kita bicara tentang dasar, itu telah menyangkut filosofi. Dan kalau kita bicara tentang filosofi, akan pasti lambat bekerjanya dan kita tidak akan sudah-sudahnya berdebat tentang filosofi.

Disaat itu saya mengatakan, bahwa kalau kita mendirikan negara merdeka jangan disamakan saja dasar-dasarnya dengan negara-negara di Eropa dan kita tak usah mengulangi lagi sejarah negara-negara di sana. Jangan lagi kita tiru-tiru sejarah negara-negara Barat yang mengalami pertentangan antara agama dan negara. Mulanya gereja menguasai segala-galanya termasuk negara, kemudian negara memprotes sampai akhirnya berbagi tugas, dunia diurus negara, akhirat diurus gereja. Bagi kita di sini tidak ada yang demikian itu. Kita harus mempunyai dasar sendiri sesuai dengan sifat dan pertumbuhan sejarah masyarakat dan pandangan hidup bangsa kita. Mendengar pendapat-pendapat itu, Bung Karno menjawab persoalan yang dikemukakan itu dengan pidato beliau yang merupakan permulaan lahirnya dasar-dasar perumusan Pancasila.”

Lalu dalam buku beliau yang berjudul “Untuk Bangsaku : Sebuah Otobiografi”,

“Hanya Sukarno yang menjawab pertanyaan Ketua Radjiman Widyodiningrat. Pada hari keempat pada tanggal 1 Juni 1945, ia berpidato panjang lebar yang lamanya kira—kira 1 jam yang berpokok pada Panca Sila, lima dasar. Pidato itu disambut hampir sernua anggota dengan tepuk—tangan yang riuh. Tepuk-tangan yang riuh itu dianggap sebagai suatu persetujuan. Sebelum selesai sidang hari itu, Ketua Radjiman Wediodiningrat mengangkat suatu panitia kecil yang di dalamnya duduk semua aliran, Islam, Kristen, dan mereka yang dianggap ahli konstitusi, untuk merumuskan kembali pokok-pokok pidato Sukarno itu. Panitia kecil itu menunjuk sembilan orang di antara mereka untuk merumuskan kembali pidato Sukarno yang kemudian diberi nama Pancasila.

Menurut pidato Sukarno, kelima sila itu urutannya ialah Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau perikemanusiaan, Demokrasi, Keadilan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Panitia Sembilan mengubah susunannya. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sila yang pertama, sebagai sila yang rnempersatukan seluruhnya. Sila kedua diganti menjadi sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, sila ketiga disebut sila Persatuan Indonesia, untuk menegaskan kepada orang—orang Jepang bahwa Indonesia mau bersatu, tidak mau dibagi—bagi, sila keempat itu ialah sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan, sila kelima ialah sila Keadilan Sosial.

Teks Pancasila yang sudah dirumuskan kembali menurut keputusan Badan Penyelidik Usaha—usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia akan dimuat dalam permulaan UUD Republik Indonesia. Dalam Panitia 9, Sukarno meminta Mr. Muhammad Yamin membuat suatu preambul yang di dalamnya dimuat teks Pancasila.

Preambul itu dibuat terlalu panjang oleh Mr. Muhammad Yamin sehingga Panitia Sembilan menolaknya. Bersama- sama dengan Mr. Muhammad Yamin, Panitia 9 membuat teks yang Iebih pendek, seperti yang terdapat sekarang pada UUD Republik Indonesia. ‘

Mr. Muhammad Yamin kemudian mengambil teks yang panjang itu sebagai pengganti pidato yang diucapkannya dalam sidang Panitia Penyelidik Usaha—Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, yang kemudian lagi dimasukkannya ke dalam buku pertama yang tiga jilid, yang diterbitkannya dan berjudul Undang—Undang Dasar 1945.”

Jadi dapat disimpulkan bahwasannya menurut Bung Hatta, asal-usul pancasila berasal dari pidato yang diucapkan oleh Bung Karno pada saat rapat BPUPKI 1 Juni 1945. Pidato Bung Karno itu kemudian dijadikan patokan atau dasar untuk menyusun dasar negara yang akan terbentuk nantinya, sehingga untuk itu dibentuklah panitia kecil yang beranggotakan sembilan orang untuk menyusun dan mengatur kembali apa yang dikemukakan oleh Bung Karno itu.Pada akhirnya terdapat beberapa hal yang diubah dari pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni seperti yang telah dikemukakan di atas. Adapun sebab-sebab mengapa urutan Pancasila itu diubah dijelaskan oleh Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” sebagai berikut :

“Dalam pendidikan tentang isi daripada Pancasila itu perlu dipahamkan pula sejarah pembentukannya. Dulu waktu DR. Rajiman selaku ketua Panitia Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia membicarakan soal dasar negara, Bung Karno mengemukakan pokok-pokok Pancasila, dimana waktu itu Sila Ketuhanan disebutkannya di nomor lima dan Kebangsaan di nomor satu.

Oleh panitia sembilan, waktu itu diubah urutannya, berdasar pendapat panitia bahwa dasar negara itu sebenarnya dua lapisnya, yaitu lapis etik itu didahulukan dan karena itu sila Ketuhanan Yang Maha Esa dijadikan yang pertama, dan berlaku selaku sila yang memimpin sila yang lain-lainnya. Ia merupakan sumber yang tidak hanya semata-mata rasional, tetapi bila buntu jalan, atau sekali-kali sesat jalan ada unsur gaib yang memberikan petunjuk dan yang akan mendorong kita menuju ke jalan yang benar.

Sila Kebangsaan yang disebut Bung Karno itu, diganti dengan Persatuan Indonesia, karena waktu itu ada suatu arah-arah Jepang hendak membagi-bagi Indonesia. Maka itu dengan penekanan Persatuan Indonesia sebagai ganti kata Kebangsaan, dimaksudkan bahwa Indonesia sebagai suatu Bangsa tidak dapat dibagi-bagi dan harus tetap menjadi satu. Istilah Kebangsaan lebih bagus sebenarnya. Tetapi karena keadaan waktu itu yang menyebabkan digantinya dengan menjadi Persatuan Indonesia. Dalam hubungan ini perlu pula dipahamkan satu hal dalam riwayat kejadian Undang-Undang Dasar kita, dimana Pancasila merupakan Preambulenya. Hal itu adalah bahwa UUD kita berbeda dari UUD negara-negara Eropa. Disana Undang-Undang Dasar didasarkan kepada individualisme. Undang-Undang Dasar kita lebih banyak berdasar kolektivisme. Jadi masyarakat didahulukan dan bukan individu. Di Eropa karena pengaruh revolusi Perancis, individu didahulukan. Sedangkan bagi kita masyarakat dikemukakan (diutamakan).”

Sebagai generasi pendahulu, Bung Hatta pun menitipkan pesan tentang Pancasila untuk generasi muda sebagai berikut :

“Dewasa ini nampak belum dididikkan (pancasila.red), jadi baru diapalkan saja. Belum tercermin dalam kehidupan dan tindak tanduk kita. Karena itu dalam uraian Pancasila, saya tekankan sekali agar Pancasila itu betul-betul dijadikan kenyataan. Dapatlah ditekankan sekali lagi agar Pancasila dijadikan pendidikan yang diamalkan, bukan pendidikan yang diapalkan. Dan harus dijadikan suatu perbuatan yang nyata.”

Mengenai sejarah Pancasila ini, Bung Hatta juga menitipkan sebuah testimoni kepada keluarga Bung Karno yang diberikan kepada putra sulung Bung Karno yaitu Guntur Soekarnoputra. Testimoni ini diambil dari Buku Bung Hatta : Pribadinya dalam kenangan sebagai berikut :

Pancasila

Dekat pada akhir bulan mei 1945 dr. Rajiman, ketua panitia penyelidik usaha-usaha kemerdekaan indonesia membuka sidang panitia itu dengan mengemukakan pertanyaan kepada rapat:  negara indonesia merdeka yang akan kita bangun itu, apa dasarnya? “kebanyakan anggota tidak mau menjawab pertanyaan itu, karena pertanyaan itu akan menimbulkan persoalan  filosofi yang akan berpanjang-panjang. Mereka langsung membicarakan soal Undang Undang Dasar. Salah seorang dari pada anggota Panitia Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia itu, yang menjawab pertanyaan itu ialah Bung Karno, yang mengucapkan pidatonya pada tanggal 1 juni 1945, yang berjudul PANCASILA, lima sila yang lamanya kira-kira satu jam. Pidato itu menarik perhatian anggota Panitia dan disambut tepuk tangan yang riuh. Sesudah itu sidang mengangkat suatu panitia kecil untuk merumuskan kembali Pancasila yang diucapkan Bung Karno itu. Diantara panitia kecil itu dipilih lagi 9 orang yang akan melaksanakan tugas itu yaitu : Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. A.A. Maramis, Abikusno Tjokrosoejoso, Abdulkahar muzakir, H.A. Salim, Mr. Ahmad Soebardjo, Wahid Hasjim, Mr. Moehammad Yamin.

Orang sembilan ini mengubah susunan lima sila itu dan meletakkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa di atas. Sila kedua yang dalam rumusan Soekarno disebut internasionalisme atau peri kemanusiaan diganti dengan sila kemanusiaan yang adil dan beradab, sila ketiga disebut persatuan indonesia pengganti sila kebangsaan indonesia, yang dalam rumusan bung karno dia ditaroh diatas jadi sila pertama. Sila keempat disebut kerayaktan, yang dalam rumus Bung Karno sebagai sila ketiga disebut Mufakat atau demokrasi. Sila kelima disebut sila kesejahteraan sosial yang dalam rumus bung karno disebut sila ke-4 keadilan sosial. Seperti dikatakan tadi sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yang dalam rumus bung karno menjadi sila kelima dijadikan sila pertama.

Pada tanggal 22 juni 1945 pembaruan rumusan panitia 9 itu diserahkan kepada Panitia Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia dan diberi nama Piagam Jakarta. Kemudian seluruh Piagam Jakarta itu dijadikan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sehingga Pancasila dan UUD menjadi dokumen negara pokok

Pancasila dan UUD yang sudah menjadi satu dokumen negara itu diterima oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 18 agustus 1945 dengan sedikit perubahan. Yang dicoret adalah 7 perkataan dibelakang ketuhanan yaitu “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi penduduk-nya”. Sungguhpun tujuh perkataan tersebut hanya mengenai penduduk yang beragama islam saja, pemimpin-pemimpin umat kristen di Indonesia timur berkeberatan, kalau tujuh kata itu dibiarkan saja, sebab tertulis dalam pokok daripada pokok dasar negara kita, sehingga menimbulkan kesan, seolah-olah dibedakan warga negara yang beragama islam dan bukan islam

Pada tanggal 29 agustus 1945 Komite Nasional dalam rapatnya yang pertama sudah mensahkan UUD yang diterima oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan indonesia dan sekarang sudah menjadi UUD Negara kita lagi.

Jakarta, 16 Juni 1978

 

Mohammad Hatta

 

Kesimpulan :

Pancasila bermula dari Pidato Ir. Soekarno didepan rapat BPUPKI tanggal 1 juni 1945 untuk menjawab pertanyaan dari DR. Rajiman Widyodiningrat tentang falsafah/dasar negara baru yang akan terbentuk nantinya. Pidato Ir. Soekarno tersebut disambut dengan antusias oleh anggota-anggota yang rapat pada hari itu dan diputuskan untuk dijadikan sebagai referensi dasar negara yang akan terbentuk nantinya. Untuk menyempurnakan pidato Soekarno tersebut maka dibentuklah panitia kecil yang berisikan sembilan orang. Rumusan Pancasila yang baru dan telah disempurnakan kemudian disampaikan kepada BPUPKI pada tanggal 22 Juni 1945 dan diberi nama Piagam Jakarta.

Seluruh isi Piagam Jakarta kemudian dijadikan pembukaan UUD 1945 dan menjadi satu dokumen negara dengan UUD yang diserahkan kepada PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945. Undang-Undang Dasar yang masih berupa dokumen negara kemudian disahkan menjadi UU Dasar Negara oleh KNIP pada rapat pertamanya tanggal 29 Agustus 1945.

 

Referensi

  1. Swasono, M.F., “Bung Hatta : Pribadinya dalam kenangan”, Penerbit UI Press, Jakarta : Indonesia, 1981.
  2. Yazni, Z, “Bung Hatta : Menjawab”, Penerbit Gunung Agung, Jakarta : Indonesia, 1978.
  3. Hatta, Moh., “Untuk Negeriku : Sebuah Otobiografi”, Penerbit Buku Kompas, Jakarta : Indonesia, 2011.

2 thoughts on “Pancasila 1 Juni 1945

  1. terima kasih catatannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s