SkyLovers

Sebuah tulisan, sebuah cerita…

Indonesia Dynamic Duo : Soekarno – Hatta

Leave a comment

Indonesia Dynamic Duo : Soekarno-Hatta

                Pastinya para pembaca yang budiman pernah mendengar istilah “Dynamic Duo” kan? Nah kalau sudah pernah mendengar istilah tersebut, biasanya juga tahu kan apa artinya? Saya sendiri juga pernah dan sering mendengar istilah ini. Kalau menurut saya, istilah Dynamic Duo memiliki arti bahwa ada dua orang (duo) yang bersinergi saling bahu-membahu untuk menciptakan suatu keadaan yang baik. Istilah Dynamic Duo muncul pada karakter komik keluaran DC yaitu Batman & Robin. Kedua nya saling bahu-membahu untuk melawan para penjahat di kota Gotham.

                Kali ini saya akan menceritakan tentang kisah Dynamic Duo yang ada di Indonesia. Ya, saya akan menulis mengenai kisah dua orang putra Indonesia yang memiliki latar belakang yang berbeda, namun dapat bersatu untuk mewujudkan cita-cita Indonesia. Tulisan yang saya tulis ini mengenai kisah Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta. Dua orang pahlawan proklamator – pahlawan nasional yang dimiliki Indonesia. Nama Soekarno dan Hatta hampir tidak dapat dilepaskan/dipisahkan antara satu sama lain. Dimana-mana embel-embel yang menggunakan kata Soekarno pasti dibelakangnya diikuti oleh Hatta. Jalan raya, jalan kampung, jalan desa, nama bandara, semuanya menggunakan kata Soekarno-Hatta.

                Saya mengenal kata “Soekarno-Hatta” adalah waktu pelajaran IPS-Sejarah di SD-SMP-SMU, tepatnya di bagian penjelasan tentang Pergerakan Indonesia, peristiwa sekitar proklamasi (Penjajahan jepang, perang kemerdekaan, hingga penyerahan kedaulatan), hingga di era kabinet parlementer. Jujur saja kalau saya bilang materi yang diajarkan pada buku-buku sejarah di sekolah itu hanya dasarnya saja, dan tidak terlalu kompleks – menyeluruh. Bahkan kalau boleh jujur banyak yang tidak diajarkan di buku-buku sejarah soal siapa itu Soekarno-Hatta. Terlebih di zaman orde baru, tidak banyak mengungkap siapa sosok Soekarno yang sebenarnya. Yang diajarkan di buku-buku pelajaran sekolah-sekolah hanyalah menjelaskan Soekarno dan Hatta adalah proklamator R.I serta Presiden dan Wakil Presiden R.I yang pertama, itu saja tidak lebih. Kita tidak tahu siapa sosok Soekarno dan Hatta yang sebenarnya, kalau kita hanya belajar dari literatur di sekolah saja. Beruntunglah di era reformasi (keterbukaan) ini banyak buku-buku yang menerbitkan kisah-kisah / biografi tentang sosok proklamator negeri ini tersebut. Di internet, kita tinggal mengetikkan kata “Soekarno-Hatta”, dan akan muncul hasil pencarian yang sangat banyak yang berhubungan dengan sosok pahlawan yang dicintai oleh rakyat Indonesia itu.

                Nah, kali ini saya akan menambahkan sedikit dari pengetahuan saya tentang sosok pahlawan negeri ini, dari bahasa saya sendiri. Yang saya tahu dari buku sejarah dulu, Soekarno dan Hatta adalah sosok yang saling bekerja sama – bahu membahu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mereka berjuang bersama dengan rakyat untuk mengusir penjajah dari muka bumi Indonesia untuk mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka yang adil dan makmur (ya elaaahhh bahasa nya sok UUD 45 gini!!). Tapi tahukah, bahwa mereka itu sebenarnya adalah dua orang yang memiliki kepribadian yang berbeda?? Berbeda dalam pandangan politik, berbeda dalam latar belakang daerah asalnya, berbeda dalam latar belakang pendidikan, bahkan berbeda dalam urusan soal asmara (:D). Kalau saya bilang beda nya mereka berdua itu ibarat dua sisi mata koin, dimana satu sisi gak bisa melihat atau bersama sisi yang lain, tapi kalau hilang satu sisi maka tidak akan berlaku lah nilai koin tersebut.

Ir. Soekarno atau biasa dipanggil Bung Karno dilahirkan di Blitar pada tanggal 6 juni 1901. Ayahnya adalah seorang guru bernama R. Soekemi Sosrodiharjo dan Ibu nya bernama Ida Ayu Nyoman Rai (pernah tahu Yayasan Idayu, kalau tak salah itu terinspirasi dari ibunda BK) yang berasal dari Bali. Bung Karno memiliki kakak bernama Soekarmini, nah BK itu nama aslinya adalah Kusno Sosrodiharjo, tapi belakangan nama itu diganti menjadi Soekarno. Hal ini dikarenakan pada saat itu Kusno kecil sering sakit-sakitan, sehingga kemudian ayahnya mengganti namanya menjadi Soekarno (berasal dari kata Karna, seorang tokoh pewayangan mahabarata-ini saya tahu dari buku beliau yang berjudul Penyambung Lidah Rakyat). Kalau dilihat dari silsilahnya ayah BK berasal dari jawa dan ibunya dari Bali, dalam soal agama sendiri BK yang bilang bahwa dia berasal dari keluarga yang “abangan”. Perjalanan hidup BK kemudian mengantarkannya ke rumah indekos milik HOS Cokroaminoto (tahu kan ya siapa dia??), disinilah Soekarno muda bertemu dengan orang-orang yang kemudian menjadi sosok berpengaruh di negeri ini. Ya, di rumah Cokroaminoto ini, ia bertemu dengan Musso, Alimin, dan Kartosoewiryo (yang gemar sejarah pasti tau siapa mereka-mereka ini). Setelah lulus sekolah HBS di Surabaya, BK kemudian melanjutkan studi nya ke sekolah teknik THS (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil.

                Drs. Mohammad Hatta, dilahirkan di Bukittinggi pada tanggal 12 Agustus 1902 (usia antara Bung Karno dan Bung Hatta terpaut 1 tahun), nama sebenarnya dari Bung Hatta adalah Mohammad Attar, beliau sering dipanggil dengan nama kecil Atta. Dan akhirnya kita memanggil dengan Hatta. Keluarga Bung Hatta cukup terpandang di desanya, ayah Bung hatta bernama Hadji Muhammad Jamil yang merupakan anak dari Syekh Batuhampar dan ibunya bernama Siti Saleha. Ayah Bung Hatta meninggal sewaktu Bung Hatta berumur 8 bulan, sehingga ia tidak pernah mengenali ayahnya. Berbeda dengan Bung Karno yang dilahirkan dikeluarga abangan, Bung Hatta dilahirkan di keluarga yang berlatar belakang islam. Kakeknya adalah seorang ulama yang terpandang di daerahnya. Selain itu, Bung Hatta juga berasal dari keluarga pedagang. Walaupun kakek dari ayahnya adalah seorang ulama namun ayahnya yaitu Muhammad Jamil tidak mengikuti jejak ayahnya menjadi ulama, ia memilih untuk menjadi pedagang dan ibunya juga berasal dari keluarga pedagang. Kakeknya yang berasal dari jalur ibu yang sering dipanggil oleh Bung Hatta dengan sebutan Pak Gaek, memiliki nama asli Ilyas gelar Bagindo Marah merupakan seorang pedagang besar. Beberapa paman Bung Hatta pun merupakan seorang pedagang besar di Jakarta. Perjalanan hidup Bung Hatta di dunia pendidikan menempuh jalan yang panjang. Setelah lulus sekolah setingkat SMP di kota padang, beliau melanjutkan pendidikannya ke sekolah dagang (Hooge Handelschool) di Batavia. Dengan bantuan pamannya yang seorang saudagar, maka Bung Hatta kemudian melanjutkan studi nya ke negeri Belanda. Beliau mengambil jurusan ilmu ekonomi.

Nah, dari apa yang saya ceritakan diatas sudah terlihat bukan bahwa kedua sosok proklamator kita memiliki latar belakang dan arah pendidikan yang berbeda pula. Kalau Bung Karno berasal dari Jawa dan kemudian mengambil jurusan teknik sipil di THS (skr ITB) Bandung, maka Bung Hatta yang berasal dari tanah minang melanjutkan studi nya di bidang ilmu ekonomi di negeri Belanda. Namun, dari sinilah garis perjuangan keduanya akan dimulai.

Perjuangan Pergerakan

                Sebagai akibat pelaksanaan politik balas budi, kemudian munculah cendekiawan-cendekiawan yang berasal dari golongan pribumi. Sebagian dari cendekiawan tersebut yang merasa kasihan terhadap penderitaan bangsanya kemudian mendirikan berbagai macam organisasi untuk meningkatkan taraf hidup rakyat pribumi. Salah satu pencetusnya adalah organisasi Budi Utomo yang di gagas oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo, dan Dr. Soetomo. Organisasi yang pada awalnya hanya ingin mencerdaskan rakyat Indonesia tersebut kemudian mulai menjelma menjadi organisasi yang sifatnya kepartaian dan mulai bertujuan untuk membebaskan Indonesia dari cengekraman penjajahan. Bung Karno yang saat itu berkuliah di THS pun tak ketinggalan pula akhirnya ikut terjun kedalam organisasi politik. Pada awalnya ia sering ikut berkumpul pada rapat yang diadakan oleh S.I (Serikat Islam), selain itu ia membentuk pula kelompok diskusi pelajar di kampusnya. Namun, hal ini tidak bertahan lama karena tindakannya mulai diendus oleh pemerintah Hindia Belanda, yang pada akhirnya ia diancam tidak dapat meneruskan studi nya. Akhirnya Bung Karno pun memilih untuk menyelesaikan studi nya terlebih dahulu. Setelah menyelesaikan studinya, Bung Karno sempat bekerja dengan membuka biro teknik, namun tidak lama karena setelah itu ia kembali berkecimpung di dunia politik dengan mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Sementara itu di negeri Belanda, pemuda Hatta pun tidak kalah diam dengan ikut bergabung pada perhimpunan pelajar indonesia yang sudah ada sebelumnya. Bung Hatta yang sudah pernah menjabat sebagai bendahara Jong Sumateranen Bond pun diterima dengan senang hati oleh perhimpunan pelajar Indonesia. Pada awalnya Bung Hatta hanya menduduki posisi bendahara, namun karena kecakapannya ia berhasil menduduki posisi ketua perhimpunan Indonesia. Karena posisi-nya ini dan semakin terkenalnya P.I, maka Bung Hatta pun diundang mengikuti konferensi-konferensi mengenai perjuangan menentang imperialisme yang saat itu banyak disuarakan oleh pelajar-pelajar dari dunia ketiga. Karena hal inilah kemudian ia bersahabat dengan Jawaharlal Nehru (pemimpin pergerakan India).

Walaupun berbeda tempat, yang satu di Indonesia dan yang satu nya lagi ada di negeri Belanda. Keduanya menjadi orang-orang yang masuk dalam daftar hitam pemerintah Belanda. Tak lama kemudian setelah tiba dari konferensi internasional, Bung Hatta dan kawan-kawannya ditangkap oleh pemerintahan Belanda dengan tuduhan menghasut masyarakat agar menentang kerajaan Belanda. Akibatnya, ia pun dijatuhi hukuman 3 tahun kurungan penjara. Di hadapan persidangan, Bung Hatta pun membacakan pembelaan nya yang terkenal yaitu Indonesia Vrij (Indonesia Merdeka), dengan pembelaan dari beberapa pengacara dan tuduhan pemerintah Belanda yang tidak dapat dibuktikan, maka Bung Hatta pun kemudian di bebaskan setelah beberapa bulan mendekam di penjara. Ketika Bung Hatta dipenjara, maka gelombang protes terhadap penangkapan itu pun bermunculan. Soekarno bersama para pemimpin pergerakan yang lain pun juga memprotes atas penangkapan Bung Hatta dkk. Nah, kalau Bung Hatta ditangkap di Belanda, maka Bung Karno pun merasakan hal yang sama. Di tahun 1930, Bung Karno dan kawan-kawannya di tangkap oleh pemerintahan Hindia Belanda karena tindakannya dinilai sudah mulai membahayakan eksistensi pemerintah kolonial. Sebagai akibatnya ia pun harus merasakan dinginnya tembok penjara di Sukamiskin, Bandung. Seperti Bung Hatta yang terkenal dengan pembelaanya di muka pengadilan, maka Bung Karno pun membacakan pledoi nya yang terkenal yaitu Indonesia Menggugat. Walaupun begitu BK tetap juga dijatuhi hukuman hampir selama satu tahun.

Walaupun memiliki asas perjuangan yang sama, yaitu nasionalis-sosialis dan non-kooperasi. Tapi tidak jarang keduanya sering berselisih paham. Perselisihan paham yang pertama adalah ketika pihak Bung Hatta menerima tawaran untuk duduk di kursi parlemen tweede kamer di Belanda. Hal inilah yang kemudian memicu polemik di Hindia Belanda saat itu. Bung Karno dkk menilai langkah yang telah diambil Bung Hatta dengan bergabung di parlemen tweede kamer sebagai melunak nya perjuangan Bung Hatta dkk di negeri Belanda, sehingga mulai meninggalkan asas Non-kooperasi. Pernyataan ini kemudian ditanggapi oleh Bung Hatta dengan pernyataan bahwa tidaklah sama parlemen di Belanda dengan parlemen di Hindia Belanda, suara di parlemen Belanda akan lebih didengar oleh pemerintah negeri Belanda, hal ini berbeda dengan volksraad yang ada di Hindia Belanda dimana suara para wakil yang duduk didalam volksraad hampir tidak ada gaungnya sama sekali (menurut hadji Agus Salim, Volksraad merupakan perkumpulan omong-omong). Menurut Bung Hatta, dengan diterima nya mereka di parlemen, maka hal ini akan lebih mudah untuk menyuarakan kemerdekaan Indonesia dan disinilah mereka akan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang telah dicita-cita kan itu. Pada akhirnya Bung Hatta tidak jadi masuk menjadi anggota parlemen di negeri Belanda dan memilih untuk pulang ke Indonesia setelah masa studi nya selesai.

Interniran

Pada tahun 1932, Bung Hatta kembali ke Indonesia. Pada saat itu, situasi pergerakan di Indonesia bisa dibilang mulai mengalami kemandegan. Pemerintah Hindia Belanda mulai melakukan penangkapan-penangkapan terhadap pentolan pergerakan dan di jebloskan ke penjara serta dibuang keluar daerah jawa. Saat itu Bung Karno sedang di tahan sebagai akibat dari aktivitas politiknya, dan otomatis aktivitas PNI bisa dibilang berhenti total. Tak lama kemudian PNI dibubarkan. Sekeluarnya Soekarno dari penjara maka ia pun bergabung dengan partai Indonesia (Partindo). Nah, saat itu pun timbul pula perbedaan pendapat antara Bung Karno dan Bung Hatta. Bung Hatta menilai bahwa seharusnya rakyat diberikan pengetahuan yang cukup mengenai ilmu perpolitikan daripada terus diberi ceramah-ceramah yang membangkitkan semangat kemerdekaan, hal ini bertujuan apabila sewaktu-waktu pemimpinnya ditangkap oleh pemerintah, maka anggota nya yang lain mampu tampil menggantikan, dan begitu seterusnya, sehingga perjuangan untuk mencapai kemerdekaan pun terus bergelora. Perbedaan pandangan ini dikisahkan salah satunya oleh istri Bung Karno yaitu Inggit Garnasih dalam buku Kuantar ke Gerbang sebagai berikut :

“….Pada suatu sore kami kedatangan seseorang, tapi kami sedang tidak berada di rumah. Kabarnya seorang tamu, perawakannya pendek, telah datang. Ia meninggalkan alamat tempat ia menginap, yaitu hotel Bunga di Jalan Pos Timur. Disebutkan namanya : Hatta.

…..Pada kesempatan lain muncullah lagi Hatta di rumah kami. Waktu itu sedang ada Sartono, Dokter Hirdjan dan istrinya. Beberapa lama pembicaraan berputar sekitar keadaan di Eropa. Maklumlah, tentunya kami menanggap Hatta yang baru kembali ke tanah air. Tamu-tamu makan siang dirumah kami, kesempatan ini digunakan oleh Kusno untuk mengajak Hatta dan Sartono berunding sebentar di kamar. Sedangkan aku bersama Hirdjan dan istrinya di ruang tengah. Dalam hati aku berdoa, semoga pertemuan orang-orang penting di kamar itu berubah sesuatu yang bakal menyenangkan semua. Semoga menjadi damai. Semoga menjadi bersatu kembali orang-orang pergerakan itu.

Setelah para tamu pergi, Kusno bercerita bahwa Hatta sudah menjelaskan pendiriannya dan juga pendirian partainya,

“Menyenangkan? tanyaku. “Sementara ini menyenangkan”, sahut Kusno. “Apa yang penting?” tanyaku lagi. “Ia mengajak supaya kita tidak saling menyerang.”, “kan itu bagus” kataku. “Ya bagus, tapi Hatta tidak mau berkisar setapak pun.”

Aku diam, kecewa. Mengapa pula Hatta tidak mau mengalah sedikit pun? Pikirku. Hatiku cepat menyesal. “Ia katakan,” kata kusno selanjutnya, “ia hendak memberikan janji kepada pengikutnya. Kalau Belanda menghalang-halangi generasi kita untuk bergerak, tak usahlah generasi kita ini bergerak lagi. Sebagai gantinya kata Hatta, kita mengajar para intelektual yang muda-muda yang pada suatu saat akan menggantikan kita untuk meneruskan ajaran-ajaran kita dan yang akan membawa kita ke kemerdekaan. Ini adalah janjinya kepada tanah air kita,. Ini merupakan soal prinsip, katanya. Soal kehormatan, katanya.” Kusno menceritakan itu dengan nada mengejek.

“Aku tidak pernah mengerti sama sekali perkara tetek bengek secara intelektual yang khayal itu,” kata Kusno. “Dan mereka tak pernah membangun kekuatan. Apa yang mereka kerjakan hanya bicara. Tidak ada tindakan, hanya bersoal jawab.” Kusno kelihatan kecewa. “Aku telah mencoba usaha yang terakhir,” kata Kusno lagi. “Ini adalah soal peperangan,” kataku. “ Ini adalah perjuangan untuk hidup. Ini adalah semata-mata persoalan kekuatan.” “Tetapi, ia seperti tidak mau mengerti,” kata Kusno seterusnya. “Padahal sudah kukatakan, di saat Bung maju terus dengan usaha pendidikan, pada waktu ini pula kepala Bung akan dipukul oleh musuh,” Begitulah Kusno menggambarkan perbedaannya antara mengerahkan massa yang dianutnya, dan mendidik kader yang dipegang Hatta.

…..“Ia dan aku tak pernah dalam satu getaran gelombang yang sama,” kata Kusno seperti menunjukkan penyesalannya. Alhasil pertemuan dengan Hatta itu mengandung udara yang mendung, yang sewaktu-waktu bisa menimbulkan bentrokan yang lebih besar lagi.

Tiada nyana perbenturan antara suamiku dan Hatta muncul lagi dalam suatu polemik yang tidak menyenangkan dalam pers Indonesia dan Melayu-Tionghoa. Lagi-lagi soal pengertian atau pendirian non-kooperasi itu. Kedua belah pihak baku hantam, saling memegang pendiriannya, dan saling mengejek. Tidak menyenangkan bagiku, tetapi aku istri Kusno.”

Mengenai perbedaan padangan ini, tampaknya Bung Hatta berkaca pada apa yang telah dialami Bung Karno, sewaktu Bung Karno dkk ditangkap, maka otomatis kegiatan partai berhenti total, karena tidak memiliki cukup orang yang mampu menjalankan kegiatan partai. Maka dari itu kemudian Bung Hatta bersama Sutan Sjahrir mendirikan organisasi yang bernama Pendidikan Nasional Indonesia (PNI baru). Hal ini bertujuan untuk menghasilkan kader-kader yang siap untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bung Karno pernah mengibaratkan persoalan tersebut dengan seorang napi yang sedang dipenjara, disini beliau berkata apabila seorang napi mau meloloskan diri dari penjara maka ia belajar terlebih dahulu sebelum meloloskan diri atau meloloskan diri dulu baru belajar diluar. Mana dari keduanya yang benar, wallahualam.

Pemerintah Hindia Belanda yang semakin gerah akan sepak terjang para pemimin bangsa, kemudian melakukan tindakan yang represif yaitu dengan menangkap dan mengirim mereka ke daerah pembuangan. Bung Karno dibuang menuju Ende dan Bung Hatta serta Sutan Sjahrir (sebenarnya Sutan Sjahrir berencana untuk kembali meneruskan pendidikan nya di Belanda) dibuang ke Boven Digul. Cukup lama Bung Karno mendekam di Ende, namun di sinilah ia menemukan PANCASILA yang merupakan buah dari pikirannya, serta di Ende pula ia mulai mendalami Islam dengan surat-menyurat kepada A. Hassan (seorang tokoh Islam yang terkenal pada saat itu). Pada tahun 1938, Bung Karno dipindahkan ke Bengkulu akibat menderita penyakit malaria, para tokoh pergerakan memprotes bahwa jika terjadi sesuatu dengan Bung Karno akibat terkena malaria, maka akan timbul perlawanan yang dahsyat terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Berbeda dengan Bung Karno yang tinggal di Ende, maka Bung Hatta dan Sutan Sjahrir dibuang ke Boven Digul. Di daerah inilah pemerintahan Hindia Belanda membuang tokoh-tokoh pergerakan yang dianggap bertindak anarkis. Nah yang lucu adalah, disini Bung Hatta mendapatkan tentangan dari golongan Komunis. Seperti diketahui saat itu hingga kedepan  Bung Hatta memang menjadi seseorang yang selalu menjadi musuh orang-orang beraliran komunis. Dalam buku Bung Hatta Menjawab, Bung Hatta mengatakan bahwa untuk menambah uang saku selama pembuangan maka Bung Hatta menyumbangkan tulisannya pada harian pikiran rakjat sedangkan orang-orang komunis yang tadi nya menentang belanda akhirnya menjadi luluh dan mau bekerja dengan pemerintah belanda untuk menambah uang saku nya, malahan dari orang-orang komunis itu memusuhi kelompok bung hatta dkk!. Bung Hatta tidak lama tinggal di boven digul, karena setelah itu ia dan Sjahrir dipindahkan menuju Bandaneira. Kondisi di Banda sendiri memang sedikit lebih baik daripada di Digul, selain itu di Banda juga terdapat beberapa tokoh pergerakan lain yang juga ditahan di tempat itu seperti Dr. Cipto Mangunkusumo.

Seokarno berpidato

Seokarno berpidato

Kedatangan jepang dan Indonesia Merdeka

Tokoh – tokoh pergerakan tersebut ditahan oleh Belanda hingga saat Jepang menyerang Hindia Belanda. Bung Hatta dan Sjahrir dipindahkan dari Bandaneira untuk kemudian dibawa ke Sumedang sesaat sebelum Jepang mendarat di Indonesia, sedangkan Bung Karno baru dipindahkan ke Jakarta setelah pasukan Jepang mendarat di beberapa wilayah Indonesia. Saat tiba di Jakarta, tidak ada yang menyambut kedatangan Soekarno. Yang datang hanyalah bekas adik iparnya yaitu Anwar Tjokroaminoto. Oleh Soekarno Anwar dimintanya untuk mencari beberapa stel pakaian dan menghubungi orang-orang terdekat serta Bung Hatta juga dimintai untuk datang.

Bisa dibilang saat dibawah penjajahan Jepang inilah keduanya mulai berkolaborasi. Soekarno-Hatta selalu tampil bersama para tokoh perjuangan lainnya untuk memompa semangat rakyat dalam membantu Jepang pada perang asia timur raya, namun sebenarnya hal inilah adalah taktik supaya rakyat indonesia siap dalam menyongsong kemerdekaan yang telah dekat itu. Ini karena para tokoh nasional tersebut berpendapat bahwa Jepang pasti akan kalah oleh kekuatan Amerika dan sekutunya karena memang Industri Jepang tidak sekuat Amerika serta Jepang tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah sehingga harus  terus mengambil dari Indonesia dan sekitarnya yang jaraknya jauh dari kepulauan Jepang. Mengenai bersatunya Soekarno dan Hatta ini dikisahkan oleh Burhannudin Harahap di buku Bung Hatta : Pribadinya dalam kenangan sebagai berikut :

“……Ada kabar yang dibawa oleh Sdr. Soepeno ke rumah pondokan para mahasiswa putus kuliah tersebut, bahwa beberapa hari lagi (hari dan tanggal saya sudah lupa) akan diadakan malam perkenalan, silaturrahmi dengan Bung Karno dan Bung Hatta. dan semua penghuni Cikini 71 harus hadir pada malam pertemuan itu. Sdr. Soepeno meminta supaya saya menjadi kepala rombongan karena ia akan pulang sebentar ke kampungnya Sumpyuh di Jawa Tengah. Saya tidak tahu apa pertimbangan Sdr. Soepeno untuk menyerahkan hal itu kepada saya, tetapi hal tersebut pada waktu itu tidaklah saya pikirkan atau persoalkan. Saya berpikir tidak ada soal, sekedar menjadi kepala rombongan.

Pertemuan itu diadakan, jika tak salah, di bekas gedung Deutsches Haus di Jalan Merdeka Barat sekarang. Saya sudah lupa satu per satu, siapa-siapa dari tokoh-tokoh politik yang hadir pada pertemuan itu, sebab seingat saya sewaktu rombongan kami sampai di gedung itu, tempat itu telah penuh sesak dan semua hadirin dalam keadaan berdiri membuat Iingkungan dan saya tidaklah berdiri di barisan depan, kalaupun masih dapat dikatakan barisan, untuk dapat memperhatikan siapa yang jadi pembawa acara dan siapa-siapa gembong-gembong partai-partai yang hadir. Yang jelas ialah, ada suara yang minta supaya wakil para pelajar muncul ke depan untuk menyambut. Terus terang harus saya akui saya kaget, sebab secara mental saya tidak siap untuk itu. Tidak ada persiapan sedikit pun untuk angkat bicara dan pesan Sdr. Soepeno pun memang seperti sambil lalu, seperti pemberitahuan saja bahwa ada malam perkenalan dengan  Bung Karno dan Bung Hatta dan bahwa saya menjadi kepala rombongan.

Tétapi walau bagaimanapun, saya sudah menerima penegasan dan tentulah anggota-anggota rombongan lainnya lebih tidak siap dan memang tidak ada yang muncul ke depan. Saya merasa saya terpaksa harus muncul ke depan. Bung Hatta sudah pernah datang ke pemondokan kami di  Menteng Raya, jadi saya sudah pernah berhadapan muka. Beliau berdiri di samping Bung Karno yang baru kali itu saya lihat wajahnya.

Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan dalam peristiwa yang begitu penting dan saya pun tidak ingat lagi apa apa saja yang telah saya ucapkan, tentu tidak banyak sebab seperti dikatakan tadi, memang saya tidak sangka sama sekali saya harus angkat bicara.

Tetapi yang terlintas seketika dalam pikiran saya dari literatur yang terbatas sekali pernah saya baca ialah bahwa dua  orang gembong politik yang kini berdiri berdampingan di muka kami, semua pernah berlainan siasat dalam menggembleng rakyat untuk perjuangan mencapai kemerdekaan bangsa dan rakyat Indonesia. Kiranya dapat dipahami kalau timbul utama otomatis pertanyaan bagaimanakah mereka selanjutnya menghadapi situasi sesudah mereka bebas dari pembuangan dan muncul kembali di tengah-tengah masyarakat dalam situasi baru, dimana tentara Jepang sudah menguasai seluruh Kepulauan Indonesia

Jadi seingat saya dalam kata sambutan saya yang singkat itu ada saya katakan antara lain dan kurang lebih sebagai berikut: Dengan adanya kedua pemimpin nasional ini kembali di tengah-tengah kita, semoga kita tahu ke arah mana mereka membawa kita. Bung Karno angkat bicara, sambil dengan spontan dan demonstratip merangkul Bung Hatta di muka para hadirin, maka Bung Karno berkata: ”Ini bukti kami bersatu.” Dalam rangkulan kedua belah tangan Bung Karno dan berdiri tetap secara berdampingan, seingat saya Bung Hatta tidak berkata apa-apa, kecuali tertawa lebar secara spontan pula. Kami hadirin tidak dapat menafsirkan ketawa itu melainkan sebagai tanda persetujuan dan hadirin pun turut secara spontan pula ketawa. Ada pula yang menyambutnya dengan tepuk tangan tanda persetujuan dan gembira.

Itulah yang saya ingat tentang pertemuan kembali kedua tokoh nasional tersebut di muka umum dalam suasana berkecamuknya Perang Dunia II, dan berkuasanya tentara Jepang di seluruh Kepulauan Indonesia. Momen itukah yang nantinya yang menjadi awal mula tertempanya pengertian politik Dwitunggal? Saya kira memanglah demikian

Sejak itu mereka berdua selalu berdampingan di muka umum. Memanglah kedua tokoh Proklamator ini dalam pembawaanya saling mengisi; sejak zaman pendudukan Jepang kalau kedua tokoh nasional ini muncul dalam rapat-rapat umum maka hadirin yang tajam pendengarannya dan mau merenungkan dan memikirkan apa yang telah dipidatokan, pasti lebih tertarik pada isi pidato Bung Hatta dan tentu tidak dilupakan begitu rapat umum bubar; pidato Bung Hatta memanglah memberi arah; namun tidaklah kurang artinya sifat pidato-pidato Bung Karno. Tetapi sifat itu lebih terarah pada massa yang memang senang dengan agitasi yang menggledek dan semboyan-semboyan yang membakar. Kita tentunya masih ingat akan semboyan di zaman pendudukan tentara Jepang yang dikumandangkan Bung Karno yang berbunyi: Amerika kita strika, Inggris kita linggis. Saya tidak membayangkan semboyan  semacam ini bisa diciptakan oleh bung Hatta.”

Bung Hatta

Bung Hatta berpidato dengan penuh semangat

Republik Indonesia

Kolaborasi diantara keduanya menjadi sangat kuat manakala mereka diangkat sebagai presiden dan wakil presiden yang pertama dari Republik Indonesia. Nah, mulai dari sinilah muncul istilah Dwi Tunggal itu. Banyak juga anggapan bahwa dwi tunggal itu hanyalah mitos belaka terutama dari kalangan komunis. Namun dari buku Bung Hatta menjawab, istilah dwi tunggal tersebut memang benar adanya, dan walaupun ada istilah presiden – wakil presiden tapi keduanya tetap memiliki wewenang dan tanggung jawab yang sama besarnya. Bila yang satu berhalangan hadir, maka yang lain akan menggantikannya dan bila ada keputusan yang diambil, maka yang lain ikut mendukung keputusan yang diambil oleh rekannya tersebut. Kerjasama keduanya dapat dibilang sangat ampuh selama masa mempertahankan kemerdekaan (1945-1949). Tak jarang keduanya turun tangan untuk menghadapi kekisruhan yang terjadi. Salah satu nya adalah saat kabinet Sjahrir dimintai pertanggung jawaban atas kegagalan Indonesia dalam perundingan linggajati, maka dwi tunggal ikut menjadi bumper dengan mengatakan kepada KNIP bahwa apabila mereka (KNIP) sudah tidak percaya lagi kepada pemerintah maka mereka dipersilahkan untuk mencari presiden dan wakil presiden yang baru, hal ini kontan saja membuat nyali KNIP ciut dan tidak memperpanjang masalah ini lagi. Kemudian saat terjadi peristiwa pemberontakan di Madiun yang katanya didalangi oleh Musso cs, sekali lagi Dwi Tunggal menujukkan kekuatannya yaitu saat presiden Soekarno menyerukan kepada rakyat dengan seruan pilih Soekarno-Hatta yang akan membawa Indonesia pada cita-cita yang diimpikan selama ini atau ikut Musso – Amir yang akan membawa Indonesia kepada jurang kehancuran. Hasilnya jelas, setelah seruan presiden tersebut maka pemberontakan yang terjadi di Madiun itu dapat dengan segera dipadamkan, karena rakyat Indonesia lebih memilih Soekarno-Hatta daripada Musso – Amir. Karena kewibawaanya pula maka Bung Karno mengangkat Bung Hatta sebagai perdana menteri untuk mengisi kekosongan posisi PM yang ditinggalkan oleh Amir Syarifuddin. Kewibawaan dan pengaruh yang cukup luas membuat kabinet Hatta sukar dijatuhkan oleh lawan-lawan politiknya (oposisi). Kebijakan yang cukup terkenal adalah kebijakan Re-ra yaitu Reorganisasi dan Rasionalisasi. Program ini intinya adalah untuk merampingkan jumlah angkatan bersenjata yang ada di wilayah R.I. Seperti kita ketahui bahwa di tahun-tahun itu cukup atau sangat banyak barisan bersenjata sehingga sukar bagi negara untuk melakukan kontrol terhadap angkatan-angkatan atau laskar bersenjata yang ada. Tentunya perampingan angkatan ini tidaklah berjalan mulus karena ada tentangan –tentangan dari berbagai pihak yang tidak setuju dengan diterapkannya program ini, puncak dari ketegangan ini adalah pecahnya pemberontakan PKI Madiun (Madiun Affair).  Kabinet hatta sendiri akhirnya tetap berdiri hingga penyerahan kedaulatan RI melalui perundingan meja bundar di Belanda. Berikut adalah nukilan dari buku Demokrasi Kita yang ditulis oleh Bung Hatta mengenai pendapatnya tentang pengaruh dwi tunggal terhadap republik Indonesia :

“Lahirnya ide dwitunggal diwaktu itu bukanlah suatu hal yang dibuat-buat, melainkan suatu kenyataan yang dikehendaki oleh keadaan. Dimasa Republik Indonesia yang pertama itu telah dicoba mengubah sistim pemerintah presidensiil menyadi sistim kabinet parlementer yang dipimpin oleh seorang perdana menteri, yang bertanggung jawab kepada Badan Pekerja Komite Nasional Pusat. Alasan yang dikemukakan ialah supaja Presiden dan Wakil Presiden tetap dan tidak terganggu gugat didalam memimpin negara. Presiden dan Wakil Presiden diperlindungi oleh Kabinet yang bertanggung jawab politik, yang setiap waktu dapat diganti kalau perlu. Tetapi dalam praktik ternyata, bahwa bukan kabinet yang memperlindungi Presiden dan Wakil Presiden, memagari mereka dengan tanggung jawabnya, melainkan sebaliknya Dimana-mana Presiden dan Wakil Presiden harus bertindak dengan mempergunakan kewibawaannya untuk memperlindungi kabinet dari kecaman dan serangan rakyat yang tidak puas. Sampai kedalam sidang Komite Nasional Pusat Wakil Presiden terpaksa bersuara untuk mempertahankan politik Pemerintah yang digugat clan dikecam sehebat-hebatnya oleh berbagai golongan didalamnya. Dan pada saat yang genting seperti dengan peristiwa 3 Juli 1946 orang berpegang kembali kepada Kabinet Presidensiil. Demikian juga sesudah penanda tanganan Perjanyian Renville pada permulaan tahun 1948, yang menimbulkan perpecahan besar dan pertentangan politik yang hebat dalam masjarakat, orang kembali kepada pemerintah presidensiil dibawah Wakil Presiden. Pemerintah itulah yang stabil sampai pada pemulihan kedaulatan pada akhir tahun 1949 oleh Nederland”.

Republik Indonesia dan masa-masa pertentangan

Di era pasca perang kemerdekaan, hubungan antara Soekarno dan Hatta sering mengalami pasang surut. Hal ini dikarenakan mulai terdapat perbedaan pandangan antara Soekarno dan Hatta mengenai masa depan Indonesia bila di masa pergerakan dahulu perbedaan antara keduanya terletak pada prinsip kooperasi-non kooperasi maka pada periode NKRI perbedaan pandangan terdapat pada soal masa depan indonesia. Bung Karno memiliki pandangan bahwa revolusi indonesia masih belum selesai untuk mencapai cita-citanya yaitu kemakmuran dan baginya segala susunan yang ada pada saat itu bersifat sementara dan berubah-ubah, sedangkan bagi Bung Hatta, revolusi Indonesia sudah selesai karena tujuan mencapai kemerdekaan telah tercapai dan yang harus dilakukan kemudian adalah dengan memulai melakukan pembangunan ekonomi demi mencapai tujuan kemakmuran rakyat. Jika konsepsi Bung Karno yang mengatakan bahwa revolusi belum selesai itu terus dilanjutkan maka sudah barang tentu usaha pembangunan akan terhambat karena ia akan selalu dimulai dari awal. Mengenai tanda-tanda perbedaan pendapat antara Bung Karno dan Bung Hatta pernah ditulis oleh Burhannudin Harahap dalam buku Bung Hatta : Pribadinya dalam kenangan  sebagai berikut :

Sidang yang sangat terbatas itu segera akan saya buka, Bung Karno dan Bung Hatta duduk bersama-sama di kursi panjang berjauhan, masing-masing di ujung kiri dan kanan; diantara mereka terletak pici Bung Karno. ”Mungkin Bung karno kepanasan,” pikir saya.

Sesudah sidang dibuka, maka saya jelaskan permasalahannya, kemudian saya persilakan siapa yang mau bicara. Tetapi nampaknya seperti tidak ada yang bermaksud mau bicara. Suasana hening sementara. Tidak diketahui apakah diantara dwi-tunggal sudah ada dialog sebelum anggota-anggota kabinet hadir di istana. Tetapi akhirnya Bung Hatta angkat bicara, beliau setuju dengan langkah yang telah diambil oleh menteri Pertahanan. Saya persilakan siapa lagi yang akan bicara, Suasana hening lagi, lebih lama dari yang semula. Dari hening, suasana itu terasa menjadi tegang. Untuk  memecahkan suasana hening itu saya bertanya, apakah bung Karno barangkali mau bicara. Kelihatan di wajah yang menjadi pucat itu bahwa Bung Karno menahan emosinya; semua yang hadir memandang kepada muka Bung Karno, kemudian beberapa itu seperti memuntahkan kejengkelannya saat sesudahnya suara Bung Karno, ”Sudah saya bilang, saya tidak mau bicara Saya sudah minta supaya ketiga Kepala Staf diundang supaya saya bisa bicara dengan mereka sebagai seorang bapak terhadap anak”. ”Apa‘?!” sela Bung Hatta dengan nada yang tinggi, bicara sebagai bapak dengan anak?! Tidak bisa! Anak minta maaf dahulu baru kita bisa bicara sebagai bapak dengan anak, ik spreek niet met een rebel,”) tambah Bung Hatta.

“siapa rebel?!” sela Bung Karno. di situ saya menyela, sebab dialog itu memang spontan, tanpa proseduril melewati pimpinan sidang. Segera saya simpulkan bahwa saya sudah tahu pendapat kedua beliau itu oleh karena itu sidang akan saya tutup. Rasanya sudah semakin jelas bahwa sifat kemanunggalan dalam makna Dwitunggal yang selama ini kita junjung tinggi sudah memperlihatkan tanda-tanda yang memprihatinkan. Perasaan memprihatinkan itu bertambah lagi kemudian, sewaktu Bung Karno nampaknya tidak bersedia menanda- tangani suatu rancangan undang-undang pembatalan perjanjian dengan Belanda, Walaupun rancangan undang-undang telah diterima oleh DPRS. Dari Mr. Anak Agung Gde Agung yang waktu itu adalah menteri Luar Negeri, diperoleh kabar bahwa Bung Hatta menyarankan pada Bung Karno agar rancangan undang-undang itu janganlah ditunda-tunda penandatangannya oleh Presiden. Tetapi penandatanganan itu tidak terjadi, dan saran Bung Hatta itu pun konon kabarnya tidak pernah mendapat tanggapan ataupun jawaban dari Bung Karno.

Puncak perbedaan diantara keduanya ditandai dengan mundurnya Bung Hatta dari kursi wakil presiden pada tahun 1956 karena ia sudah merasa tidak sejalan lagi dengan Bung Karno. Sejak mundurnya Bung Hatta dari jabatannya maka usai sudah istilah Dwi Tunggal itu. Bung Hatta mengambil keputusan tersebut untuk memberikan kesempatan kepada Bung Karno untuk menjalankan program politik sesuai kehendaknya. Beberapa pihak mencoba untuk mendamaikan atau mempertemukan keduanya namun tetap saja usaha tersebut tidak berhasil. Walaupun sudah tidak menjabat lagi, bukan berarti Bung Hatta tidak mengikuti perkembangan politik pemerintahan Bung Karno. Sebagai kawan tentulah ia juga mengingatkan dan memberikan saran serta kritik terhadap kebijakan Bung Karno. Kritik yang paling keras adalah sewaktu Bung Hatta mengeluarkan tulisan nya yang berjudul Demokrasi Kita yang secara terang-terangan mengkritik kebijakan politik Bung Karno pada tahun 1960-an. Bung karno kemudian langsung bertindak represif dengan mencekal peredaran buku tersebut. Bung Karno kemudian seperti melakukan counter atas pernyataan Bung Hatta itu lewat pidato 17 agustus tahun 1960 yang berjudul “Laksana Malaikat yang menyerbu dari Langit jalannya Revolusi Kita”. Dalam pidatonya tersebut Bung Karno secara jelas melakukan kritik terhadap tulisan Bung Hatta.

Pertemuan terakhir

Pasca G30S bisa dibilang kekuasaan Bung Karno benar-benar dipreteli. Hingga akhirnya kemudian ia benar-benar dijauhkan dari dunia luar dengan dirumahkan di wisma yaso dengan penjagaan layaknya tahanan politik. Saat-saat paling mengharukan diantara kedua orang ini adalah ketika Bung Hatta menjenguk Bung Karno yang sedang terbaring sakit di Wisma Yaso. Menurut buku yang ditulis oleh sekretaris Bung Hatta yaitu I. Wangsa Widjaja, tidak sembarang orang boleh menemui Bung Karno dan untuk bertemu dengan beliau maka harus minta izin lapor terlebih dahulu. Maka pada suatu ketika bung Hatta menerima surat dari Masagung yang mengatakan bahwa sakit Bung Karno telah sangat gawat dan dalam surat itu pula masagung mengatakan bahwa saat itulah yang paling tepat bagi Bung Hatta untuk menjenguk rekan seperjuangannya itu. Akhirnya Bung Hatta bergegas menyuruh sekertarisnya untuk memintakan izin kepada pihak-pihak terkait agar bisa menjenguk proklamator RI itu. Wangsa widjaja kemudian menghubungi Tjokropranolo (mantan Gubernur DKI yang saat itu menjabat sebagai sekertaris militer presiden Soeharto) untuk meminta izin supaya diperbolehkan menjenguk Bung Karno. Setelah turun izin untuk menjenguk Bung Karno, maka bergegaslah Bung Hatta menjenguk Bung Karno di rumah sakit bersama putri dan sekertarisnya. Di ruang perawatan, Wangsa widjaja menuturkan bahwa hanya ada Bung Karno, Bung Hatta, Meutia Hatta, seorang perawat serta ia sendiri sementara itu Tjokropranolo berada di luar ruangan. Berikut petikan dari buku Mengenang Bung Hatta yang ditulis oleh Wangsa Widjaja seputar peristiwa di rumah sakit itu,

” Ketika kami masuk ke dalam kamar bung Karno beliau sudah tidak sadarkan diri. Perawat dalam ruangan itu menjelaskan kepada kami bahwa tidak sejak berapa hari terakhir ini Bung Karno sudah tidak sadarkan diri. Sekitar sepuluh menit lamanya kami menunggu di kamar itu, kemudian saya ajak Bung Hatta untuk pulang. “Sudah bung, Bung Karno sudah tidak sadarkan diri lagi, mari kita pulang saja,” begitulah kira-kira yang saya katakan kepada Bung Hatta. Bung Hatta tampaknya terlihat sedih sekali melihat keadaan kawan seperjuangannya yang sedang tergeletak tak berdaya. Tanpa menjawab ajakan saya, pelan-pelan beliau melangkah kearah pintu. Maksudnya akan keluar ruangan dan terus pulang. Namun kemudian baru beberapa langkah berjalan, Bung Karno tiba-tiba siuman. Entah karena apa, kebetulan sekali kami masih melihat ke arah pembaringan Bung Karno ketika beliau siuman itu….”

Kemudian seperti apa yang dituturkan oleh Meutia Hatta di buku Bung Hatta : Pribadinya dalam kenangan,

“………Begitu masuk ruangan, Ayah langsung menuju ke tempat tidur Bung Karno sambil berkata, ”Aa, No, apa kabar?” Bung Karno diam saja, memandang Ayah beberapa lama. Kemudian mengucapkan kata-kata yang sulit kami tangkap, tapi kira-kira berbunyi, ”Hoe gaat het met jou? (Apa kabar?)”. Tak lama kemudian, beberapa kali air mata beliau menetes ke bantal. Sambil memandang Ayah yang terus memijiti lengan Bung Karno. Beliau malah minta dipasangkan kacamata agar dapat memandang Ayah lebih jelas lagi. Tak ada kata-kata lebih lanjut, namun kiranya hati keduanya saling berbicara. Mungkin juga beliau berdua mengenangkan suka-duka di masa perjuangan bersama sejak puluhan tahun yang silam, masa-masa pergaulan bersama dan mungkin saling memaafkan. Pertemuan terakhir itu berlangsung sekitar 30 menit, dan beberapa hari kemudian Bung Karno menutup mata selama lamanya. Tak terlihat emosi pada wajah Ayah, tidak juga padu waktu beliau menjengukjenazah Bung Karno, tetapi saya tahu, hati Ayah cukup sedih ditinggalkan kawan seperjuangan beliau yang utama”.

Dua hari setelah pertemuan itu, Bung Karno wafat dan saat mendengar kabar tersebut Bung Hatta tampak tercenung lama, mungkin pada saat itu beliau sedang mengenang kembali masa-masa perjuangan bersama Bung Karno untuk membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan bangsa asing. Walaupun keduanya sering berbeda pendapat namun untuk urusan pribadi mereka mampu menyingkirkan egonya masing-masing dan tetap bersahabat hingga akhir hayat. Walaupun hubungan politik keduanya memanas, namun sebaliknya hubungan pribadi kedua orang tersebut tetap terjalin baik dan seperti tiada dendam antara satu sama lain. Sebagai contohnya adalah sewaktu Bung Hatta sakit, maka Bung Karno menyempatkan diri untuk menjenguk rekan sejawatnya tersebut serta menawarkan kepada Bung Hatta untuk berobat saja sekalian ke luar negeri begitu pula sebaliknya. Bahkan suatu ketika Bung Karno akan terbang ke luar negeri ia menyempatkan dulu untuk berpamitan kepada Bung Hatta. Hubungan pribadi diantara mereka berdua dapat disimak dari tulisan yang dibuat oleh anak-anak mereka yaitu Meutia Hatta dan Guntur Soekarno di buku Bung Hatta : Pribadinya dalam kenangan, adapun Meutia menulis :

 “…….Sebelum Kemerdekaan, mereka sering salingberkeras satu sama lain, yang tampak dari tulisan-tulisan mereka. Namun pada suatu ketika, beliau berdua bersatu dalam menjalankan tugas memproklamasikan Kemerdekaan Negara Indonesia dan menjalankan pemerintahan negara yang masih sangat muda itu. Betapapun berlainannya sifat pribadi mereka demi keutuhan bangsa,mereka bersatu karena negara membutuhkan kedwitunggalan mereka. .

orang Juga mengetahui bahwa pada suatu ketika kebersamaan mereka tak dapat dipertahankan. Ayah melihat bahwa sudah waktunya keputusan lain diambil: meletakkan jabatan Wakil Presiden, demi keutuhan bangsa pula.

Orang sering menganggap bahwa walaupun secara politis berdua bertentangan, secara pribadi mereka selalu tetap baik satu sama lain. Sebagai seorang anak, dulu saya merasa bahwa pendapat ini ada benarnya tetapi tidak selalu demikian. beberapa kali ucapan-ucapan Bung Karno dalam pidato-pidato beliau maupun dalam otobiografi beliau yang menyinggung peranan Ayah, misalnya tentang saat-saat Proklamasi Kemerdekaan atau tentang program koperasi Ayah, tidak menunjukkan sikap Bung Karno yang menghargai jasa Ayah dalam perjuangan mereka bersama. Hal ini, bagi seorang anak seperti saya cukup menyedihkan. Namun Ayah sendiri tak pernah menunjukkan sakit hati di muka kami, keluarganya. Kadang-kadang saja beliau setuju dengan komentar-komentar kami pose-pose Bung Karno dalam koran yang kami anggap berlebihan bagi seorang Presiden. Tetapi tidak lebih daripada itu

walaupun demikian, Ibu mengatakan bahwa kemarahan mereka satu sama lain hanya dapat dipahami oleh mereka sendiri, sehingga orang yang tak mengenal Soekarno-Hatta mungkin bisa salah interpretasi. Pada saat-saatnya, mereka saling memaafkan satu sama lain dan pada saat-saat tertentu, respek Bung Karno terhadap Ayah atau sebaliknya, kelihatan. Bung Karno pernah melupakan kecaman pedas Ayah dalam Daulat Ra’jat N0. 80, November 1933 tentang dirinya, dan bersatu dalam perjuangan bersama untuk kemerdekaan Bangsa. Ayah sendiri pada akhirnya memaafkan ucapan-ucapan Bung Karno yang cenderung melupakan peranan Ayah dalam perjuangan bersama di masa lampau, sesudah Bung Karno tidak lagi menjadi presiden Republik Indonesia.”

Bung Karno menjenguk Bung Hatta yang sakit

Bung Karno menjenguk Bung Hatta yang sakit

Sementara itu Guntur juga dalam buku yang sama menuliskan tentang hubungan ayahnya dengan Bung Hatta sebagai berikut :

“Usiaku waktu itu baru 5 tahun, namun dari tuturan ibuku, secara samar-samar masih bisa kuingat saat pengenalanku yang pertama tentang figur Bung Hatta, di kala Yogyakarta diduduki tentara Kolonial Belanda. Bung Karno, Bung Hatta dan beberapa pembesar lain sedang menjadi tahanan Belanda di Pulau Bangka. Keluarga mereka berdua di “karantina” bersama-siama di Istana Presiden RI. Sebagai bocah yang selalu-ingin tahu, aku bertanya kepada ibuku tentang menghilangnya bapakku dan adanya beberapa figur yang masih asing bagiku di Istana. Ibu mengatakan bahwa? Bapak sedang memberi kursus di luar kota dan Pak Hatta ikut, sebab ia Wakil Presiden, wakilnya Bapak. Oleh karena itu keluarganya menginap bersama kami.

”Wakil~Presiden itu apa Bu? Presiden itu apa?” tanyaku

”Apa ya…..? Begini, Bapak dan Pak Hatta bersahabat mereka sudah seperti saudara, seperti kau dan Mega. Presiden dan Wakil Presiden itu seperti kakak dan adik, jadi adiknya diajak ke luar kota”.

Tahun 1964 atau 1965, Bung Hatta bukan Wakil Presiden R.I. lagi dan sering jadi bulan-bulanan serangan politik PKI. Pada suatu acara mereka mengadakan pembacaan teks proklamasi yang pada alinea penutupnya hanya disebut nama Soekarno tanpa nama Hatta.

Bung Karno naik pitam. Aku tahu ini dari dialog waktu makan siang. Ekspresi wajahnya membuat balado pete yang biasanya terasa nikmat jadi tersendat masuk kerongkonganku. Aku berbasa-basi menanyakan keadaannya (aku tinggal di Bandung sejak 1962 karena studiku). Ia diam, menggeleng. Kusambung, ”Kok Bapak kelihatannya sedang…” Sedang apa??? Sedang marah, hahl‘? Memangaku sedang maraaah! …. .. Bukan  bukan sama kau….. sama pemimpin PKI!!!  Orang boleh benci pada seseorang! Orang boleh dendam pada seseorangl Boleeeh …. .. entah apa Iagi! Kamu tahu? Aku kadang-kadang judeg dengan politiknya Hatta! Aku kadang-kadang saling gebug dengan Hattal! Tapi, menghilangkan Hatta dari teks Prrooklaamaasii …. .. itu perbuatan…..pengecut!!”. Sambil bangkit berdiri, jedaarr…. meja makan bergetar kena tinju Sang Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno. Sialan, mau makan enakjadi berantakan!”(dalam hati).

Tahun 1970 merupakan kenangan indah dan hutang budiku yang terbesar pada Bung Hatta. ‘Bung “Karno sedang’ dalam “pengamanan” di Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala, Gatot Soebroto, Jakarta). Kondisinya amat lemah. Aku sendiri, setelah berpacaran selama 6 tahun dan bertunangan selama 6 bulan, tak mau lagi mengulur waktu untuk menikah dengan Henny.

 Hampir 4 minggu sebelum akad nikah, Bung Karno via Ibu Fat mengajukan izin kepada Kodam V Jaya (waktu itu kalau tak salah Jenderal Poniman) agar ia bisa hadir sebagai wali pernikahanku di Bandung. Maklum, bagi figur yang perlu”di- amankan”, prosedurnya mesti begitu. Konon, permohonan ini pun harus ditransfer dulu ke Kodam VI Siliwangi, Jawaban Jenderal H.R. Dharsono datang: mohon maaf, tak bisa menjamin ”keamanan” tamu yang sedang diamankan dan perlu ”pengamanan” itu. Bung Karno tak bisa hadir.

Kusampaikan berita ini dengan hati berat, sedih bercampur pilu kepada Bung Karno yang terbaring lunglai di kursi lusuh di Wisma Yaso, diawasi jururawat di satu sudut dan para petugas POMAD di sudut-sudut lain ruang makan Wisma  Yaso. ”Oh,kau Tok? Bagaimana dengan izin?”. Aku menggelengkan kepala. Dada serasa pecah, tenggorokan terasa tersumbat. Bung Karno hanya mengangguk. Airmataku meleleh Bung Karno mengepalkan tinjunya ke dadanya, mengisyaratkan agar aku tetap tabah menghadapi cobaan ini. Aku mengangguk dengan pasti dan Bung Karno tersenyum lemah. Aku pun tersenyum sambil menyeka air mata. ”Sini kau mendekat ….. .. (sambil berbisik)  Minta…. Pak Hatta…. jadi….. walimu”. Aku serasa mimpi. ”Mana Pak Hatta mau? Aku nggak berani mintanya, Bapak yakin Pak Hatta mau?” Bung Karno mengangguk pasti. ”Suruh ibumu menyampaikan permintaan Bapak ini padanya”. Aku terbengong Kusampaikan pesan Bung Karno kepada Bu Fat. Ia lansung menelepon Bung Hatta dan mendapat jawaban bersedia!! Aku langsung lari kegirangan ke kamar kecil untuk…….menangis sepuasnya. Aku lupa bahwa usiaku 26 tahun, sudah berani kawin, bukan lagi Guntur kecil yang mengompoli Bung Hatta di Rengasdengklok tahun 1945”

Soekarno-Hatta

Soekarno bertemu Hatta saat Dwitunggal sudah bubar

Selain itu menurut penuturan Guntur di buku tersebut, ia juga mendapatkan sebuah testamen yang berharga dari Bung Hatta yaitu berupa pernyataan dari Bung Hatta bahwasannya benar adanya tentang sosok Bung Karno yang merupakan penggali pancasila. Hal itu sangatlah penting, karena pada saat itu mulai muncul upaya-upaya untuk menghilangkan jejak Soekarno pada sejarah Indonesia. Sehingga dengan adanya testamen dari Bung Hatta kepada Guntur ini merupakan salah satu bukti yang menguatkan bahwa memang benar adanya yaitu Bung Karno-lah yang menggali dasar-dasar Pancasila untuk pertama kalinya. Sepeninggal Bung Karno, Bung Hatta pernah dimintai tolong oleh Masagung untuk menjadi pelindung yayasan idayu yang merupakan yayasan yang dibentuk dengan mengambil nama dari ibunda Bung Karno. Berikut penuturan yang diberikan oleh Masagung tentang sosok Bung Hatta (diambil darisini),

Hubungan persahabatan saya dengan Bung Hatta tambah erat lagi setelah beliau bersedia menjadi pelindung Yayasan Idayu, yaitu setelah Bung Karno meninggal dunia. Bung Hatta bersedia menjadi pelindung Yayasan Idayu atas permintaan Bapak Soemarmo, Ketua Badan Pelaksana Yayasan Idayu, teman seperjuangan dan kawan beliau sejak dari zaman Yogya dulu.

Bung Hatta senang sekali dengan buku-buku dan segala usaha Yayasan Idayu. Yayasan tersebut, yang menurut sejarahnya memakai nama ibunda Bung Karno, sebab ada hubungannya dengan Bung Karno.

Pada tahun sesudah 1965, apa-apa yang berbau Soekarno atau berhubungan dengan Soekarno, ditakuti orang, dijauhi orang, dianggap bisa merupakan bahaya. Kita bisa didemonstrasi bila menunjukkan simpati terhadap Soekarno. Sangat mencekam bertahun-tahun lamanya. Ini suatu kenyataan. Orang takut terang-terangan mengemukakan hal-hal yang baik tentang Soekarno.

Tetapi lain dengan Bung Hatta. Belum selang berapa lama Bung Karno wafat, Bung Hatta diminta kesediaannya untuk menjadi Yayasan Idayu. Secara spontan beliau menyatakan bersedia. Suatu sifat yang luar biasa, padahal suasana anti-Soekarno masih memuncak ketika itu. Sebagai salah seorang pendiri dan pengurus Yayasan Idayu, kami bisa bekerja lebih tenang.

Ada lagi yang saya ingat. Bila Bung Hatta diundang datang ke Yayasan Idayu atau ke rumah pribadi saya, beliau selalu datang. Tidak pernah beliau tidak hadir. Saya agak heran, kok begitu besar simpati pribadi beliau kepada Yayasan Idayu maupun kepada saya dan keluarga. Simpati beliau itu sungguh-sungguh, jelas tidak main-main atau pura-pura. Kalau beliau tidak senang terhadap sesuatu, terang-terang beliau mengatakan tidak senang. Simpati beliau terhadap pribadi saya dan keluarga diikuti oleh seluruh keluarga beliau, termasuk menantu-menantu.

Mr. A. Karim Pringgodigdo pernah mengatakan bahwa kerja sama antara Bung Karno dan Bung Hatta itu merupakan hal yang sangat ideal sekali. Kekuatan Bung Karno terletak pada kemampuannya dalam menggembleng dan menyatukan rakyat indonesia. Sementara itu kemampuan Bung Hatta terletak pada keahliannya melakukan organisasi. Seperti dapat diketahui bahwa kerja sama Soekarno-Hatta pada masa-masa sistem presidensiil dapat menghasilkan Indonesia yang merdeka dan berdaulat.  Burhannudin Harahap memberikan pandangannya terhadap dwi-tunggal sebagai berikut :

“Dengan pengunduran diri Bung Hatta sebagai wakil presiden lama kemudian, maka dengan kejadian-kejadian seperti yang diterangkan di atas, saya mengambil kesimpulan bahwa fungsi Dwitunggal rupa-rupanya makin lama makin pudar menurut penglihatan saya ia lahir pada waktu diadakan malam perkenalan dengan tokoh-tokoh Dwitunggal itu pada tanggal 1942 Ia tumbuh, mantap dan terpatri waktu Dwitunggal itu menjadi Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia. Ia kokoh dan kuat sewaktu menghadapi pemberontakan PKI di Madiun tetapi sesudah Pemerintah Pusat pindah dari ibu kota perjuangan Yogyakarta, rupanya lambat laun ia retak dan akhirnya pecah sewaktu Bung Hatta merasa lebih baik berada luar pemerintahan daripada mempertahankan Dwitunggal yang sudah tidak berfungsi itu.”

Konklusi :

Keduanya telah memberi contoh dan suri tauladan yang baik bagi bangsa ini. Ego politik keduanya berhasil diredam sewaktu Jepang datang untuk kemudian bersama-sama memimpin bangsa Indonesia ke arah kemerdekaan yang telah diimpi-impikan. Sewaktu perjuangan mempertahankan kemerdekaan pun, mereka tampil sebagai tameng untuk melindungi kabinet inkumben dari serangan lawan-lawan politik yang ingin menjatuhkan pemerintahan. Hubungan politik mereka memang berakhir  di tahun 1956 setelah Bung Hatta memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan wapres. Setelah ditinggal Bung Hatta, maka Bung Karno ibarat tidak memiliki “rem” lagi dalam mengendalikan lajunya pemerintahan negara sehingga akhirnya seperti yang diketahui pemerintahan Bung Karno jatuh secara tragis di tahun 1965. Walaupun berbeda pandangan politik dan kerap terlibat perdebatan sengit dimuka umum, tapi secara hubungan pribadi tetap saja mereka berkawan erat. Kritik-kritik yang disampaikan oleh Bung Hatta kepada kawan perjuangannya yaitu Bung Karno pun tidak seperti kritik yang sering dilontarkan oleh para politikus saat ini dimana lebih menjurus untuk menjatuhkan lawan politiknya, kritik Bung Hatta lebih bersifat mengkoreksi kebijakan-kebijakan yang dinilainya menyengsarakan rakyat Indonesia.

Kedua nya telah lama meninggalkan bangsa ini Bung Karno wafat di tahun 1970 sedangkan rekannya yaitu Bung Hatta wafat di tahun 1980, semoga amal beliau berdua di terima di sisi-Nya. Entah kapan akan lahir sosok-sosok seperti Soekarno – Hatta di negeri ini, yang pasti sosok dan sifat mereka patut menjadi suri tauladan kita semua selaku penerus tongkat estafet perjuangan.  Di tahun politik seperti saat ini tentunya rakyat Indonesia masih menunggu dan memimpikan akan hadirnya sosok-sosok seperti Bung Karno dan Bung Hatta untuk dapat memimpin Indonesia kearah yang lebih baik lagi entah tahun ini, 5 tahun depan, 10 tahun kemudian atau 50 tahun lagi, entahlah……..

Akhir kata dari tulisan saya ini akan saya tutup dengan sebait lagu dari Iwan Fals yang berjudul “Hatta”,

“Bernisan bangga berkafan doa, dari kami yang merindukan orang sepertimu………”

Soekarno-Hatta (kdri)

Soekarno-Hatta (kdri)

Sumber referensi :

  1. Swasono, M.F., “Bung Hatta : Pribadinya dalam kenangan”, Penerbit UI Press, Jakarta : Indonesia, 1981.
  2. Yazni, Z., “Bung Hatta menjawab”, Penerbit Gunung Agung, Jakarta : Indonesia, 1974.
  3. Widjaja, I.W., “Mengenang Bung Hatta”,  1980
  4. Adams, Cindy. “Bung Karno : Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, Gunung Agung, Jakarta : Indonesia, 1966.
  5. K.H. Ramadhan, “Kuantar ke Gerbang”, Penerbit Bentang, Yogyakarta : Indonesia, 2011.
  6. Hatta, Mohammad, “Demokrasi Kita”, Pustaka Antara, Jakarta : Indonesia, 1966.
  7. Noer, Deliar. “Mohammad Hatta : Hati Nurani Bangsa”, Penerbit buku Kompas, Jakarta : Indonesia, 2012.
  8. http://blogs.unpad.ac.id/boenga/category/bung-hatta/page/89/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s