SkyLovers

Sebuah tulisan, sebuah cerita…

Kisah Palapa B2

Leave a comment

Misi penyelamatan PALAPA B2

Di masanya Indonesia merupakan salah satu negara di belahan bumi bagian selatan yang terdepan dalam pengeksplorasian luar angkasa. Indonesia adalah negara kedua setelah jepang yang mampu meluncurkan roketnya sendiri yaitu roket Kartika 1 di tahun 1964. Pada dekade 70-an, indonesia juga merupakan negara pertama di regional asia tenggara, yang menggunakan teknologi satelit  untuk komunikasi, broadcast dll melalui program PALAPA. Hingga saat ini tercatat beberapa seri palapa yang telah mengorbit yaitu PALAPA A1,A2, PALAPA B1, B2, B2P, B2-R, B4 PALAPA C1, C2 hingga yang terbaru yaitu PALAPA D.

Pada dasarnya Indonesia memang tidak membuat sendiri satelitnya, namun memesannya dari produsen satelit. Dalam hal ini hampir semua PALAPA dibuat oleh perusahaan satelit Hughes asal Amerika Serikat terkecuali untuk Palapa D yang dibuat oleh perusahaan Thales asal Perancis. Kecuali Palapa B1 & B2, hampir semua satelit palapa diluncurkan dengan menggunakan roket. Palapa B1 & B2 tidak diluncurkan dengan roket, melainkan dibawa dulu oleh pesawat ulang-alik lalu dilepaskan hingga mencapai orbit geostasioner-nya. Nah, tentunya para pembaca masih ingat dengan kejadian “hilang”-nya satelit Palapa D beberapa tahun yang lalu. Satelit Palapa D yang baru saja diluncurkan ternyata hilang jejak alias tidak bisa ditracking dari bumi. Hal ini terjadi karena roket pengantar satelit tersebut mengalami kegagalan pada tahap ke-3, sehingga satelit nya tidak sampai pada orbit geostasioner-nya. Kegagalan dalam mencapai orbit geostasioner nya menyebabkan satelit palapa-D ini harus menggunakan propulsi motornya sendiri untuk dapat mencapai orbit yang seharusnya. Cara ini memang terbukti berhasil menempatkan satelit tersebut ke orbit yang semestinya, tetapi hal ini harus dibayar dengan masa pemakaian satelit itu sendiri. Karena bahan bakar dari satelit itu sudah didesain untuk masa pakai 15 tahun, namun dikarenakan dipakai untuk membakar roket pendorong hingga mencapai orbit yang semestinya, maka umur pakai satelit ini berkurang menjadi hanya 10 tahun saja (sumber wiki).

Konfigurasi satelit Palapa

Konfigurasi satelit Palapa

Nah, kejadian yang mirip dengan Palapa D ini ternyata juga pernah terjadi pada misi Palapa sebelumnya, yaitu palapa B2. Berbeda dengan palapa D yang diluncurkan dengan menggunakan roket, palapa B2 diluncurkan dengan dibawa terlebih dahulu oleh pesawat ulang-alik. Pesawat ulang-alik ini akan “mengantar” satelit hingga ketinggian orbit tertentu, lalu melepaskannya untuk kemudian satelit itu dengan bantuan roket pendorong yang diistilahkan PAM mencapai ketinggian geostasionernya. Palapa B2 dibawa oleh pesawat ulang-alik Challenger dalam misi STS-41 D. Misi Challenger sendiri dalam penerbangan ini adalah mengantar 2 buah satelit komunikasi dan menguji coba perangkat EVA yaitu jetpack – atau bahasa NASA nya adalah MMU (Man Maneuvering Unit). Dengan menggunakan alat ini maka astronot dimungkinkan untuk melakukan aktivitas ruang angkasa yang lebih kompleks.  Misi mengantar dan menguji coba jetpack nya berhasil dilakukan dengan baik. Tapi ada masalah yang cukup serius terjadi kemudian yaitu roket pendorong orbit yang terpasang pada Palapa B2 ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya alias gagal. Akibatnya adalah satelit ini tidak mencapai orbit geostasionernya, dan suatu kebetulan juga ternyata satelit yang diluncurkan bersamaan dengan palapa yaitu westar 6 pun juga memiliki masalah yang sama, yaitu sama-sama tidak berfungsi roket pendorongnya. Nah, karena satelit ini masih dalam penanganan pihak produsen, maka mereka pun segera bertindak untuk “menyelamatkan” satelit tersebut, tak tanggung-tanggung cara nya adalah dengan mengirimkan pesawat ulang-alik lagi untuk menjemput satelit-satelit itu lalu membawa nya pulang ke bumi. Misi “penjemputan” satelit ini pun tidaklah segampang yang dibayangkan, banyak yang harus dipersiapkan dari administrasi, teknis dan non-teknisnya.

Menurut yang saya baca dari sebuah artikel, misi penjemputan ini ternyata tidak ditangani oleh Hughes secara langsung. Sebuah kontraktor asal AS yaitu Sattel Technologies membeli satelit ini dan kemudian mengontak NASA untuk “memulangkan” satelit tersebut. Lalu perusahaan ini juga meminta hughes selaku produsen satelit untuk melakukan “refurbished” apabila satelit ini berhasil dipulangkan. Misi untuk melakukan penyelamatan ini dilakukan pada misi ulang alik STS 51A dengan menggunakan pesawat ulang-alik Discovery. Keberhasilan dalam menguji coba “jetpack” pada misi STS 41D sangat berperan dalam misi penyelamatan ini. Misi penyelamatan dilakukan pada bulan November 1984, hampir 9 bulan setelah satelit ini diluncurkan pada misi sebelumnya. Misi penjemputan ini sendiri bukannya tanpa resiko, karena satelit ini berada pada jarak 250 nm (nautical mile), sehingga para ilmuwan NASA dan Hughes harus putar otak untuk membawa satelit ini pada ketinggian 160 nm agar dapat diraih oleh pesawat ulang-alik. Misi yang tingkat resiko nya hampir sama dengan penyelamatan teleskop hubble ini berjalan dengan sukses dan Palapa B2 berhasil dikembalikan ke bumi. Astronot Dale Gardner sempat melakukan hal “konyol” dengan memotret dirinya sambil memegang kertas bertuliskan “FOR SALE” setelah misi selesai.

Dale gardner dengan tulisan FOR SALE setelah mengcapture Palapa B2

Dale gardner dengan tulisan FOR SALE setelah mengcapture Palapa B2

Pada awalnya pihak Hughes enggan untuk merefurbished satelit tersebut, karena mereka beranggapan bahwa dengan meluncurkan satelit pengganti maka akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar daripada mesti membawa kembali lalu memperbaiki dan mengirimnya kembali. Tekanan dari pemerintah Indonesia lah yang akhirnya membuat Hughes mau untuk merefurbished kembali satelit tersebut. Nantinya satelit yang diluncurkan kembali itu diberi nama Palapa B2-R. Peluncuran kembali Palapa B2-R sendiri bukannya tanpa hambatan, setelah kejadian meledaknya Challenger di udara, pemerintah AS meninjau ulang segala kebijakan mengenai program luar angkasa pesawat ulang-alik. Salah satu kebijakan dari pemerintah AS yaitu mengenai pelarangan pengiriman satelit komersial menggunakan pesawat ulang-alik membuat kelabakan Sattel Technologies. Karena sebelumnya mereka telah bekerja sama dengan NASA untuk mengirimkan kembali satelit ini dengan pesawat ulang alik mereka, dan angka peluncuran nya pun sudah ditetapkan sekitar 25 juta dollar AS. Namun karena adanya kebijakan pelarangan ini, pihak sattel pun menggunakan wahana roket delta untuk meluncurkan kembali satelit palapa. Hal ini berimbas pada biaya peluncuran yang menjadi membengkak hingga mencapai 50 juta dollar AS.

Palapa B2 sedang dimasukkan ke ruang cargo

Palapa B2 sedang dimasukkan ke ruang cargo

Pada akhirnya satelit Palapa B2 mencatatkan dua buah sejarah, yaitu pertama menjadi satu dari dua satelit yang diluncurkan bersamaan dan secara kebetulan memiliki masalah yang sama yaitu kegagalan pada roket PAM nya. Yang kedua adalah kedua satelit ini merupakan satelit yang diluncurkan oleh pesawat ulang-alik dan kemudian dijemput pula oleh pesawat ulang-alik untuk di refurbished lalu diluncurkan kembali. Palapa B2-R diluncurkan kembali pada tahun 1990 dan terus mengorbit bumi selama kurang lebih 10 tahun. Suatu perjalanan panjang dicatatkan oleh satelit Palapa B2, dari rencana operasional di tahun 1984 yang kemudian dibawa kembali ke bumi di bulan november 1984 dan diluncurkan kembali serta operasional pada tahun 1990 hingga pensiun di tahun 2000.

Melihat dari sejarah panjang negeri ini dalam penggunaan teknologi satelit, sudah semestinya negeri ini dapat dan mampu untuk membuat satelitnya sendiri. Sekarang dalam hal pengeksplorasian ruang angkasa, kita sudah jauh tertinggal dari tetangga-tetangga seberang. Jika ditilik dari posisi geografis indonesia yang berada di sekitar wilayah khatulistiwa, maka posisi inilah yang sangat strategis untuk menempatkan satelit-satelit komunikasi dan bukan tidak mungkin lintasan orbit yang strategis tersebut dapat ditempati oleh negara-negara lain yang ingin menempatkan satelitnya pada posisi tersebut. Semoga artikel pendek yang saya tulis ini mampu menambah wawasan dari para pembaca sekalian, akhir kata jika ada yang salah tulis saya mohon maaf dan terima kasih telah membaca artikel yang tak seberapa ini….hehe, Wassalam.

Video mengenai penyelamatan satelit palapa dapat dilihat di bagian ini

*) Orbit Geostasioner : Orbit geosinkron yang berada tepat di atas ekuator (garis lintang 0°), dengan eksentrisitas orbital sama dengan nol. Jadi intinya jika sebuah satelit ditaruh pada orbit geostasioner, maka satelit itu mengorbit mengikuti rotasi bumi dan dilihat dari bumi maka satelit itu tampak diam karena memiliki kecepatan gerak yang sama dengan putaran bumi. Indonesia beruntung karena letaknya berada di lintasan geostasioner.

Artikel mengenai penyelamatan palapa B2 dapat dibaca disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s