SkyLovers

Sebuah tulisan, sebuah cerita…

Review : Seratus Tahun Haji Agus Salim

2 Comments

Tema: Biografi, Sejarah

  • Judul Buku       : 100 Tahun Hadji Agus Salim
  • Penulis             : Tim Panitia Buku Peringatan
  • Penerbit          : Penerbit Sinar Harapan
  • Tahun / Halaman: 1984/ 490.

Review:

(i)   substansi

Latar Belakang

Agus Salim (en.wikipedia)

Agus Salim (en.wikipedia)

Hadji Agus Salim yang bernama asli Masjhudul Haq merupakan salah satu tokoh besar yang pernah dimiliki oleh bangsa ini. Ia berjuang tidak dengan mengangkat senjata atau bedil, ia menggunakan pikiran, bahasa, dan diplomasi ulung sebagai senjatanya untuk melawan penjajahan. Seorang yang dilahirkan di keluarga berlatar belakang islami di sebuah daerah yang bernama koto gadang. Agus Salim di didik dengan cara barat dengan masuk ke sekolah belanda karena kebetulan ayahnya adalah seorang jaksa kepala. Sebagai lulusan terbaik HBS, ia seharusnya melanjutkan studinya ke STOVIA atau negeri belanda, namun apadaya tak ada ongkos untuk melanjutkan studinya (walaupun sempat ia akan dibantu oleh R.A Kartini dengan memberikan beasiswanya kepada pemuda Salim). Arah jalan kemudian berubah, seperti sudah ditakdirkan oleh Allah SWT, karena keahliannya dalam berbahasa asing, ia kemudian ditarik oleh pemerintah Belanda untuk menjadi pegawai di biro administrasi haji di arab saudi. Dari sinilah ia kembali memperdalam ilmu agama yang sempat hilang akibat digerus oleh pengajaran ala belanda. Di Arab selama hampir 4-5 tahun, ia belajar pada imam masjidil haram yaitu Syekh Akhmad Khatib Al-Minangkabawi yang juga adalah pamannya dari garis ibu. Sekembalinya dari Arab, ia menikah dengan gadis yang memang telah di lamarnya sebelum ia berangkat ke arab. Hadji Agus Salim mulai masuk ke ranah politik saat ia masuk kedalam organisasi politik Serikat Islam yang didirikan oleh HOS Tjokroaminoto. Keahliannya dalam berdiplomasi membuatnya segera menduduki jabatan penting di organisasi pergerakan terbesar saat itu. Bila indonesia pernah memiliki dwi tunggal soekarno-hatta, maka di zaman itu ada pula dwi tunggal di Serikat Islam yaitu Tjokroaminoto-Salim. Buku ini disusun oleh panitia peringatan untuk mengenang dan mengetahui siapa sesungguhnya sosok Agus Salim itu. Terdiri atas dua bagian yaitu bagian pertama berisi komentar dan pendapat tokoh-tokoh yang pernah berada atau dekat dengan Agus Salim, lalu bagian kedua berisi tulisan-tulisan Agus Salim yang pernah dimuat disurat kabar atau disampaikannnya pada pidato nya di suatu acara.

 

Tujuan

  • Memberikan suatu informasi tentang siapa sesungguhnya tokoh yang pernah dijuluki oleh Soekarno sebagai The Grand Old Man of Indonesia itu.
  • Mengetahui pokok pikiran Agus Salim melalui tulisan-tulisan dan pandangannya terhadap dunia, agama dan politik.

Cara/metode yang digunakan

  • Pengumpulan pendapat dari masing-masing tokoh yang pernah dekat dengan Haji Agus Salim.
  • Pengumpulan tulisan-tulisan karangan yang pernah ditulis oleh Haji Agus Salim.
Buku Seratus Tahun Agus Salim

Buku Seratus Tahun Agus Salim

Isi Buku

Buku ini berisi dua bagian, yaitu pendapat dari tokoh-tokoh yang pernah dekat dengan Agus Salim dan tulisan karangan yang pernah dibuat oleh Agus Salim sendiri. Pada bagian pertama buku ini terdapat riwayat hidup singkat agus salim selama hidupnya yang ditulis oleh Kustiniyati Mochtar. Agus Salim dilahirkan pada tahun 1884 di koto gadang, dengan ayahnya adalah seorang jaksa kepala di pengadilan Belanda. Ia dilahirkan dengan nama Masjudul Haq yang berarti pembela kebenaran, nama tersebut diambil dari seorang tokoh yang terdapat pada buku bacaan yang kebetulan sedang dibaca oleh ayahnya. Namun kemudian ia malah sering dipanggil dengan sebutan Agus Salim, yang ternyata itu berasal dari sebutan “gus = yang dalam bahasa jawa adalah den bagus” dan Salim yang merupakan nama ayahnya yaitu Angku Sutan Mohammad Salim.  Karena kedudukan ayahnya itulah, agus salim mampu bersekolah di sekolahan untuk anak-anak belanda. Pengalaman ini bisa dibilang membuatnya mendapatkan pokok pikiran ala barat. Walaupun dilahirkan dari keluarga muslim, semasa mudanya ia bisa dibilang jauh dari agama islam akibat berada dalam pola pendidikan barat. Walaupun dicap sebagai lulusan terbaik dari HBS, ia tidak dapat masuk ke STOVIA dan meneruskan pendidikan nya ke tingkat tinggi karena terbentur biaya. Namun seperti sudah digariskan oleh Allah SWT, ia kemudian dikirim ke arab saudi untuk bekerja sebagai dragoman di administrasi haji arab saudi. Dari sinilah kemudian ia mulai bertemu dengan Islam kembali yang telah lama jauh dari dirinya. Sungguh kebetulan pula, ternyata pamannya yang bernama Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi adalah seorang imam besar masjidil harram, sehingga ia dapat menimba ilmu agama pada pamannya itu. Setelah 4 tahun berada di Arab Saudi, ia pun pulang kembali ke indonesia. Ia berpendapat bahwa tidak perlu berlama-lama di arab karena pada saat itu orang yang lama tinggal di arab sekembalinya ke indonesia pasti hanya menjadi seorang pembaca doa diacara kendurian dsb. Ia lalu menikahi seorang gadis bernama zainatun nahar yang pada saat itu telah ia lamar sebelum ia berangkat ke arab saudi.

                Agus Salim adalah seorang pendobrak kepada budaya-budaya yang ia nilai tidak logis dan keluar dari nalarnya. Sebelum menikahi calon istrinya, ia mengunjungi calon istrinya hanya sekedar untuk menanyakan apakah pernikahan itu benar-benar berlandaskan cinta dan tanpa paksaan sama sekali, hal ini tentunya menjadi suatu hal yang keluar dari pakem adat yang ada pada saat itu dimana mempelai pria dan wanita dilarang untuk bertemu sebelum menikah. Peristiwa yang besar lainnya adalah saat Agus Salim terpaksa menjadi wali nikah bagi adiknya sendiri, adapun cerita ini bermula pada adat budaya di koto gadang pada saat itu dimana orang yang berasal dari daerah itu harus menikah dengan orang yang berasal dari daerah yang sama pula. Nah karena adat ini, maka tak bisa dipungkiri bahwa akan terjadi pernikahan sesama keluarga sendiri. Istri Agus Salim sendiri yaitu Zainatun Nahar adalah masih sepupu dengan agus salim. Oleh sebab karena masih ada hubungan tali darah, ia pun menjadi takut apabila nanti keturunannya memiliki penyakit atau cacat bawaan sejak lahir, karena itu kemudian ia menjadi seorang vegetarian yang memakan sayur  mayur. Ia berpendapat bahwa budaya seperti ini (pernikahan yang masih dalam pertalian darah) harus dihilangkan. Oleh sebab itu saat adiknya akan menikah dengan orang dari luar daerah, maka tidak ada yang mau menjadi wali nikahnya termasuk ayahnya sendiri, bahkan penghulu pun tidak ada yang mau akibat tekanan dari ayahnya. Berbekal pengetahuannya, maka Agus Salim bersedia menjadi wali nikah adiknya, karena memang agama islam mengajarkan hal seperti itu dimana kakak laki-laki boleh menikahkan adiknya (CMIIW).  Hal ini berujung dengan dipanggilnya agus salim oleh pengadilan negeri hindia belanda saat itu, dengan perkara menikahkan seseorang tanpa persetujuan orang tuanya, dan yang mengajukan perkara itu adalah ayahnya sendiri yaitu Muhammad Salim. Setelah menikah, ia bersama keluarganya pindah ke jakarta karena agus salim bekerja di suatu departemen milik belanda. Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena ia kemudian keluar dari departemen tersebut setelah cuti nikahnya tidak diterima. Dalam kondisi menganggur, ia pun kembali lagi ke kampungnya untuk mendirikan sekolah HIS swasta. Disanalah ia sempat menjadi pengajar untuk memberi pengetahuan kepada anak-anak disana.

                Agus Salim  kembali ke jakarta dan kemudian mulai masuk ke ranah politik sejak ia bergabung dengan Serikat Islam pimpinan HOS Tjokroaminoto. Yang unik adalah, sebenarnya ia mendapat tugas oleh dinas intelijen belanda untuk menyusup ke Serikat Islam, menyelidiki kebenaran kabar bahwa Tjokroaminoto pada saat itu menerima bantuan senjata dalam jumlah besar dari pemerintah jerman. Hal yang terjadi kemudian adalah sebaliknya, Agus Salim malah menjadi salah satu orang penting di Serikat Islam. Keahliannya dalam bersilat lidah dan berdiplomasi membuatnya dalam waktu singkat menjadi orang kedua setelah Tjokroaminoto. Selain itu, ia juga banyak mendapat tawaran untuk menjadi pimpinan redaksi di suatu majalah pergerakan. Darisinilah, karirnya sebagai wartawan ia rintis. Karena menguasai pemahaman bahasa yang baik sekali, maka hal ini sangat bermanfaat baginya saat ia menjadi pimpinan redaksi majalah. Dalam waktu singkat majalah yang ia pimpin, oplah-nya menjadi meningkat. Yang membuat oplah nya meningkat adalah ketegasan agus salim dalam menaikkan artikel yang ia nilai baik, hanya artikel yang baik saja ia muat di majalah pimpinannya itu, bahkan orang partai sekalipun kalau memang isi artikelnya tidak bermutu, maka ia tidak akan memuat artikel tersebut pada hariannya. Karena ketegasannnya ini pula yang kemudian pihak-pihak pemilik dana mencampuri urusan meja redakturnya dengan mulai melarangnya untuk tidak terlalu keras dalam mengkritik pemerintah hindia-belanda. Salim, yang memang memiliki pendirian keras tentu saja menolak hal itu dengan cara langsung mengundurkan diri dari harian yang ia pimpin. Di masa peregerakan mungkin dialah satu-satunya pemimpin yang tidak pernah ditangkap oleh Belanda. Pemimpin lainnya seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Tjokroaminoto dll pernah merasakan ganas nya alam pengasingan. Seperti diketahui pada saat itu pemerintah hindia belanda gencar sekali melakukan pembuangan terhadap para pemimpin pergerakan yang dinilai terlalu radikal dalam melawan pemerintah, namun tidak demikian dengan Salim. Ia tidak pernah merasakan menderitanya tinggal di alam pengasingan bahkan ditangkap untuk sekedar dipenjarakan saja tidak pernah. Hal ini mungkin karena ia adalah seorang yang mudah dan ahli dalam diplomasi serta dapat membaca situasi saat itu, sehingga pemerintah kolonial tidak memiliki alasan untuk menangkapnya. Salim sendiri hanya pernah sekali menjalani pengasingan yaitu dimasa periode mempertahankan kemerdekaan, dimana ia, Soekarno dan Syahrir dibuang ke daerah sumatera utara dan bangka pada saat agresi militer kedua Belanda. Alasan penangkapan Salim pada saat itu pun karena ditemukan surat-surat korespondensi nya yang menentang penjajahan kembali oleh Belanda. Walaupun begitu saat ditangkap, ia diperlakukan dengan hormat oleh serdadu Belanda yang menangkapnya. Menurut penuturan George Kahin, Agus Salim tidak diwajibkan untuk berdiri di luar rumah seperti tawanan Indonesia lainnya yang kehujanan di luar rumah.

                Dalam buku ini juga dipaparkan bahwa Agus Salim adalah sosok pemimpin yang berjiwa sederhana, menurut Prof Scermerhorn kelemahan Salim cuma satu yaitu ia melarat seumur hidupnya. Sebenarnya hidup bercukupan bahkan kaya dalam segala harta benda merupakan hal yang mudah bagi orang seperti Agus Salim. Namun, ketegasannya dan tidak mau diperintah oleh orang bila itu memang tidak sesuai kata hatinya lah yang membuatnya tetap memilih hidup dengan jalan kesederhanaan. “Leiden is Lijden” yang berarti memimpin itu menderita yang dikatakan oleh Mr. Kasman Singodimejo merupakan pedoman yang menjadi pegangan selama ia hidup. Ketegasannya dan ketetapan hati nya membuatnya berkali-kali mesti meninggalkan posisi yang cukup tinggi di suatu instasi atau kantor redaksi yang ia pimpin. Bila ia keluar dari pekerjaan sudah pasti perekonomian keluarga-nya menjadi surut, namun ia sendiri tidak putus asa dan tetap berusaha seperti biasanya serta istiqomah. Beruntung, istri dan anak-anaknya mendukung penuh pendirian Salim ini. Hingga akhir hayat hidupnya, Salim tidak pernah memiliki rumah pribadi. Ia dan keluarganya berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lainnya secara menyewa. Apabila kondisi keuangan cukup memungkinkan, maka mereka tinggal dirumah yang cukup besar namun sebaliknya apabila keuangan sedang seret maka ia dan keluarganya tinggal dirumah petak yang sempit. Ada suatu kisah yang cukup menarik, yaitu ketika hujan turun dengan derasnya, rumah yang mereka tempati ternyata atapnya bocor. Alih-alih menggerutu, istri Salim mengajak anaknya untuk bermain dengan membuat kapal yang kemudian diletakkan pada ember tempat menampung air. Dalam soal pendidikan bagi anak-anaknya, Salim juga punya pandangan lain. Hampir semua anaknya tidak ada yang disekolahkan di pendidikan resmi. Bukan karena ia tak punya uang yang mampu mencukupi anak-anaknya hingga dapat bersekolah melainkan karena pendiriannya yang ingin agar anak-anaknya tidak dididik dengan cara pendidikan belanda. Namun bukan berarti Salim membiarkan anak-anaknya tanpa ilmu, dengan sabar dan telaten ia dan istrinya lah yang mendidik sendiri anak-anaknya. Suatu ketika Mr. Roem berkunjung ke rumah Salim, betapa terkejutnya ia ketika melihat anak-anak salim mampu bercakap-cakap dalam bahasa belanda dan bahasa asing lainnya. Keahlian Salim yang menguasai sedikitnya 9 bahasa asing telah menular pula pada anak-anaknya. Walaupun begitu dalam tulisannya Mr. Roem mengatakan bahwa anak-anak salim memang unggul dalam bidang sosial dan bahasa namun tidak begitu jago dalam hal aljabar hitungan.

                Selain itu keahlian Salim yang lain adalah keahliannya dalam bersilat lidah yang tiada bandingannya.  Pada suatu ketika saat ia sedang berpidato dihadapan masyarakat, dalam yang hadir itu ada pula yang berseberangan dengan pandangan politiknya. Sutan Syahrir, dkk yang waktu itu bersebrangan dengan Salim ikut pula mencemoohkan Salim dengan menirukan suara kambing saat Salim berpidato. Namun, Agus Salim tidak lah marah dengan perlakuan itu, ia hanya berkata “Tunggu sebentar, Bagi saya sungguh suatu hal yang menyenangkan bahwa kambing pun telah mendengarkan pidato saya. Hanya sayang sekali bahwa mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga mereka menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan agar untuk sementara mereka keluar dari ruangan ini untuk sekedar makan rumput dilapangan. Sesudah pidato saya ini yang ditujukan kepada manusia selesai, mereka akan dipersilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Karena dalam agama Islam bagi kambing pun ada amanatnya, dan saya menguasai banyak bahasa”. Kontan saja “counter” dari Agus Salim ini membuat muka Syahrir dan kawan-kawannya menjadi memerah. Syahrir, dkk sendiri kemudian tidak keluar ruangan seperti saran Salim, mereka malah semakin asyik dan ingin tahu isi pidato yang disampaikan Salim. Walaupun begitu tetap saja Syahrir berseberangan dengan Salim, namun ia tidak pernah lagi mencoba-coba untuk mencemooh Salim seperti sebelumnya.

                Agus Salim merupakan salah satu pemikir Islam yang dimiliki oleh Indonesia diantara pemimpin-pemimpin Islam lainnya. Ia mendalami agama Islam sewaktu berada di Arab dengan belajar pada pamannya yang seorang imam masjidil harram. Pandangannya mengenai Islam sangatlah luas dan mencakup segala aspek. Bila saat ini kita masih meributkan soal pemakaian jilbab atau hijab maka agus salim telah membahas dan menyelesaikan permasalahan itu sejak tahun 1930-an!  Lain pula dalam tulisannya ia juga telah memberikan pandangannya tentang krisis antara Israel dengan Palestina pada tahun 1930-an. Betapa luas pandangannya itu. Bahkan pandangan Salim yang ditulis pada buku ini juga saya bilang masih menggambarkan gejala dimasyarakat yang masih terjadi saat ini. Seperti ia menulis tentang pandangannya terhadap hukum yang terjadi di masa itu, “Jika negeri hendak selamat, jika kerajaan hendak sentosa, haruslah pengadilan berderajat tinggi dalam anggapan orang ramai di dalam negeri. Dan Hakim-hakim, istimewa yang mengepalai majelis pengadilan, wajiblah menunjukkan sikap kebesaran yang anggun, disertai kesabaran, keramahan, dan kemurahan yang menunjukkan bahwa ia menjaga jalannya hukum dengan bersungguh-sungguh, dengan memakai timbangan yang jernih, yang sekali-kali tidak boleh tercampur dengan pengaruh cinta atau pengaruh benci, yang dapat memincangkan teraju timbangannya”. Hal itu menunjukkan hukum yang terjadi dimasa kolonial dahulu ternyata tidak jauh berbeda dengan masa kini , dimana seringkali para hakim tidak menjalankan keadilan sebagaimana mestinya dan keputusan yang diambil oleh hakim tidak diambil berdasarkan ketentuan hukum melainkan berdasarkan status, kebaikan, kebencian dan pengaruh yang dimiliki oleh seseorang. Hal ini menjadikan hakim menjadi tidak objektif dalam mengambil keputusan, sehingga menyebabkan derajat hukum di Indonesia saat ini menjadi rendah sekali. Salim juga memberikan tulisannya tentang R.A Kartini. Dalam tulisannya itu ia memang tidak membenarkan namun juga tidak menyalahkan RA Kartini atas pandangan terhadap emansipasi wanita. Agus Salim menganggap bahwa apa yang ditulis oleh RA Kartini sebagai akibat karena lingkungan yang berada disekitar kartini pada saat itu dimana wanita-wanita priayi berada dalam kungkungan ibarat burung dalam sangkar emasnya, selain itu juga karena kekurang pahaman kartini terhadap agama Islam pada saat itu. Dalam salah satu untaian tulisannya Agus Salim menuliskan, “Demikianlah surat-surat RA Kartini itu yang terang sekali menunjukkan tiada pengetahuannya tentang agama Islam dan kurang matang pahamnya tentang keeropaan, menunjukkan kepada kita bukannya kenistaan marhumah itu, melainkan membukakan mata kita bagi satu kecelaan dan satu bahaya bangsa kita yang terutama sekali masa seperempat abad yang lalu itu amat membencanai kemajuan budi dan kemanusiaan bangsa kita..” dalam tulisannya yang lain ia juga menulis “RA Kartini dalam surat-suratnya menunjukkan betapa busuk pada pikirnya keadaan bangsanya. Tetapi tidaklah ia sampai memungkirkan bangsa, tidaklah ia sampai “menyeberang”. Tetapi sepenuh-penuh cita-citanya menghendaki terangkat naik bangsanya daripada derajad yang dilihatnya rendah itu. Kepada isi hatinya itulah kita harus memperingati marhumah putri jawa yang mulia itu” .

                Pada dasarnya Salim senang berdiskusi tentang agama islam, namun ia tidak mau membahas hal-hal yang masih menjadi perdebatan. Ia adalah seseorang yang menggunakan rasionalitas dan logika untuk pendekatan terhadap agama. Kemampuannya dalam bidang agama Islam inilah yang kemudian membawa nya pergi ke AS untuk mengajar di Cornell University. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Salim untuk mempromosikan Islam di AS.  Menjelang akhir hayatnya ia ingin membuat buku yang berisi tafsir al-quran, namun sayang sekali hal itu belum sempat ia lakukan karena ia kemudian sakit keras dan meninggal dunia.

                Peran Agus Salim pada era kemerdekaan memang jarang terlihat/terekspos di buku-buku sejarah. Namun bukan berarti beliau tidak memiliki sumbangsih bagi terbentuknya negara kesatuan republik indonesia. Salim yang dijuluki oude heer atau orang tua memang ada benarnya. Sebagai “orang tua” peran Salim adalah membimbing dan menjadi orang yang sering dimintai advise oleh angkatan muda seperti Soekarno dkk. Oleh sebab itu pula namanya masuk dalam tim panitia perumus dasar negara seperti piagam jakarta, pembukaan UUD, rumusan UUD 45, dll. Peran Agus Salim yang sangat besar adalah sewaktu ia memimpin delegasi indonesia menuju negara-negara arab untuk meminta dukungan internasional terhadap pengakuan kedaulatan Indonesia. Berkat keahliannya dalam berdiplomasi maka dipilihlah Agus Salim sebagai ketua delegasi itu. Hasil yang tidak sia-sia karena Salim berhasil meyakinkan pemimpin mesir dan negara-negara arab lainnya untuk mendukung kemerdekaan indonesia, bahkan pemimpin mesir sampai mengirimkan delegasinya yang berada di india untuk bertemu dengan Presiden Soekarno di Yogyakarta. Setelah itu tugas Salim berlanjut untuk perundingan Lake Success di PBB  bersama Sutan Syahrir. Setelah tidak menjabat sebagai menteri muda luar negeri dan menteri luar negeri , kemudian ia menempati posisi sebagai penasihat yang dimintai pendapat soal urusan kenegaraan.  Agus salim wafat pada tanggal 4 november 1954 dan dimakamkan di taman makam pahlawan kalibata. Selamat jalan Oude Heer!

(ii) Penilaian

Kelebihan

  • Merupakan salah satu sumber yang sangat penting untuk mengetahui sosok Agus Salim yang sebenarnya.
  • Pandangan Agus Salim dibuku ini sangat luas, dari bidang agama, sejarah, dan politik yang sangat bermanfaat bagi generasi muda.

Kekurangan

  • Bahasa yang terdapat pada surat-surat agus salim masih menggunakan gaya bahasa sebelum EYD, sehingga agak sukar dimengerti.

2 thoughts on “Review : Seratus Tahun Haji Agus Salim

  1. Kak, buku ini belinya dimana? susah sekali aku nyari huhuhu :((((((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s