SkyLovers

Sebuah tulisan, sebuah cerita…

Bung Hatta – Pribadinya dalam kenangan

1 Comment

Kali ini saya akan mencoba menulis tentang salah satu tokoh bangsa ini yang juga proklamator R.I dan wakil presiden R.I yang pertama yaitu Bung Hatta. Bung Karno dan Bung Hatta adalah dua orang yang telah memproklamirkan kemerdekaan sekaligus berdiri nya suatu negara bernama Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun tulisan saya ini bukanlah menggambarkan seperti apa sosok Bung Hatta yang sebenarnya itu, namun dalam tulisan saya ini akan berisi semacam review/risalah dari Buku mengenai Bung Hatta yang berjudul Bung Hatta : Pribadinya Dalam Kenangan karangan dari putri beliau sendiri yaitu Ibu Meutia Farida Hatta-Swasono.

Berbeda dengan buku yang pernah saya baca sebelumnya, yaitu Bung Hatta – Memoir (sekarang buku itu diterbitkan ulang dengan judul Untuk Negeriku) dimana buku itu merupakan biografi dari Bung Hatta yang merupakan tulisan dari beliau sendiri. Sedangkan buku ini (Pribadinya dalam kenangan.red) berisikan pendapat/kisah/komentar terhadap bung Hatta yang dituliskan oleh orang-orang terdekat beliau semasa hidupnya. Sehingga di buku ini akan lebih banyak tulisan mengenai kesan dan pesan yang dialami oleh rekan sejawat beliau, sedangkan di buku –Memoir- yang merupakan otobiografi beliau lebih banyak menjelaskan kisah hidup beliau semasa kecil hingga menjabat sebagai wakil presiden di tahun 1949.

Saya sendiri memiliki buku tentang bung hatta sebanyak 4 buah buku, yang pertama adalah memoir beliau yang dikarang oleh beliau sendiri, kemudian buku karangan Deliar Noer yang berjudul Mohammad Hatta- Hati Nurani Bangsa Indonesia, lalu ada juga buku keluaran dari penerbit kompas gramedia yang pada saat itu menerbitkan buku serial bapak bangsa yang salah satu edisi nya membahas Bung Hatta, dan buku yang terakhir ya buku yang dikarang oleh anaknya sendiri tadi. Di buku memoir seperti saya jelaskan tadi berisikan mengenai rekam jejak beliau semasa kecil, beranjak remaja, lalu menempuh kuliah di negeri belanda dan akhirnya menjadi wakil presiden R.I yang kemudian ikut serta sebagai perwakilan Indonesia saat konferensi meja bundar di Den Haag, Belanda.

Buku biografi merupakan buku yang menggambarkan tentang diri pribadi seseorang, kalau pribadi seseorang itu sangat terbuka maka isi buku tersebut pasti akan blak-blakan dalam menceritakan tentang sosok orang tersebut. Nah kalau pribadi orang itu tenang, kalem, maka gambaran isi buku tersebut juga akan kalem dan bahasanya cenderung lebih “alim” serta alurnya sedikit membosankan (bagi saya). Itu pula yang saya dapatkan dari buku Bung Hatta ini. Berbeda dengan buku biografi Bung Karno yang berjudul Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, dimana isi nya bisa dibilang rada “vulgar” dan menggambarkan seperti apa sosok sebenarnya dari presiden kita yang pertama itu. Nah, dibuku Bung Hatta ini, isi nya kalem dan tenang, serta teratur seperti pembawaan Bung Hatta sendiri dengan bahasa tulisan yang resmi dan terstruktur rapi. Seperti kita ketahui bahwa sosok dwi tunggal Indonesia yaitu Bung Karno dan Bung Hatta adalah sosok yang memiliki pribadi yang berlainan antara satu sama lain, kalau Bung Karno adalah sosok yang meledak-ledak saat berpidato dan mampu membius jutaan mata yang menyaksikan pidato beliau, maka Bung Hatta adalah kebalikannya, pidato beliau cenderung “adem ayem” saja dan bahasanya cenderung tenang sehingga membuat orang yang menyaksikan nya menjadi bosan dan terkantuk-kantuk. Tapi itulah sosok sebenarnya dari wakil presiden R.I yang pertama ini karena memang ia lebih jago dalam hal tulis-menulis. Maka tak heran ia pula yang dimintai oleh Bung Karno dan tokoh lainnya untuk membuat naskah proklamasi karena memang struktur bahasa dari Bung Hatta lebih terstruktur dan rapi.

Buku Bung Hatta -  pribadinya dalam kenangan

Buku Bung Hatta – pribadinya dalam kenangan

Nah, dalam buku Bung Hatta – Pribadinya dalam kenangan ini, berisikan kumpulan cerita dari orang-orang terdekat beliau semasa hidupnya. Saya mendapatkan buku ini dari sebuah toko buku online. Dimana saat itu saya iseng-iseng mencari literatur tentang wapres kita yang pertama ini di mesin pencari google. Salah satu tautan tanpa sengaja mengarah ke laman dari toko buku tersebut. Kebetulan pula, yang dituju adalah laman yang memuat penjualan buku Bung Hatta tadi. Sebenarnya saya sendiri memang sudah sejak lama mencari buku ini di toko buku-toko buku online, dan rata-rata memang ada beberapa toko buku online yang menjual buku tersebut. Namun sayangnya, biasa nya buku yang saya cari ini sudah laku di beli oleh orang lain. Tapi, kali ini berbeda, ketika saya melihat dengan seksama, ternyata buku ini belum terjual dan masih ready stock. Tanpa pikir panjang lagi saya segera mengirimkan e-mail ke toko buku on-line tersebut untuk menanyakan apakah buku tersebut memang masih ready apa tidak. Alhamdullilah, tak sampai satu hari setelah saya mengirimkan e-mail, pihak toko buku tersebut kemudian memberi kabar bahwa buku tersebut masih ada dan mereka memberi harga sebesar Rp 150.000,00. Menurut saya harga tersebut termasuk tinggi untuk buku bekas seperti ini, dan memang setelah saya cek tidak ada toko buku lain yang menjual dengan harga cukup tinggi seperti itu. Namun pikir saya adalah buku ini merupakan buku terbitan lama dan saat ini sudah tidak diterbitkan lagi, kalaupun diterbitkan lagi pasti harganya juga tidak terlalu berbeda jauh, sedangkan yang menjadi pertimbangan lain ialah Kapan buku ini akan dicetak lagi?? Jawaban yang logis adalah bisa satu minggu, satu bulan, satu tahun, atau bahkan tidak dicetak ulang lagi, entah lah tapi itu terserah kepada yang memiliki hak paten buku tersebut untuk mencetak ulang nya atau tidak.

Harga buku

Harga buku

Akhirnya saya pun memutuskan untuk segera membeli buku ini, supaya tidak keburu dibeli oleh orang lain. Tepat pada tanggal 12 November 2012 buku ini pun telah saya terima, dan ternyata kondisi fisik dari buku tersebut masih sangat baik, kalaupun ada yang cacat seperti bagian kertas yang menguning, hal ini masih wajar mengingat buku tersebut sudah berusia lebih dari 3 dasawarsa. Buku ini dicetak pada tahun 1981 dan merupakan cetakan ketiga yang diterbitkan oleh penerbit Sinar Harapan dan Penerbit Universitas Indonesia. Buku ini berisikan tulisan yang jumlah nya mencapai 84 artikel dari keluarga dekat Bung Hatta, rekan sejawat dan seperjuangan, kalangan akademisi hingga para perawat dan dokter yang pernah mendampingi beliau, sehingga tidak heran apabila jumlah halaman nya mencapai 700 halaman lebih. Cukup lama buku ini saya baca hingga tuntas, hal ini dikarenakan buku ini saya baca disela-sela kesibukan dunia kuliah. Akhirnya pada tanggal 28 Januari 2013, barulah saya selesai membaca buku ini. Kesan yang saya dapatkan dari buku ini adalah saya dapat melihat sosok dari proklamator bangsa ini dari berbagai pandangan mata para tokoh/rekan sejawat beliau. Walaupun terdiri dari 84 tulisan artikel yang berasal dari orang yang berbeda-beda, namun di dalam setiap tulisan tersebut mengandung substansi yang sama dari sosok salah seorang proklamator negeri ini. Tepat waktu, kutu buku, jujur, konsisten, tidak pernah marah, senyuman yang khas, itulah beberapa dari kata-kata yang sering saya temukan dalam buku ini.

Beberapa orang dalam artikel tersebut sempat kesulitan dalam menuliskan kisah – kisah mereka selama mengenal bung Hatta, karena memang biasa nya Bung Hatta lebih dikenal dengan pandangan politik dan ilmu ekonomi nya, dan Bung Hatta tidak seperti Bung Karno yang lebih “terbuka” dalam kepribadian beliau. Dalam salah satu artikel yang ditulis oleh Hamid Algadri, beliau menuliskan “ Meutia Farida Hatta Swasono meminta saya untuk menulis sedikit tentang ayahnya, almarhum Bung Hatta, junjungan besar kita semua. Tidak mudah untuk memenuhi permintaan tersebut, apalagi kalau tulisan yang diminta lebih banyak ditekankan pada pribadi Bung Hatta sebagai manusia, sebab pengetahuan dan pergaulan saya dengan Bung Hatta lebih banyak berkisar di bidang politik….”. Lalu ada pula artikel dari mantan gubernur DKI Jakarta, yaitu Ali Sadikin yang menuliskan “ Saya tidak tahu secara pasti pertimbangan Ny. Meutia Farida Hatta-Swasono sehingga saya termasuk salah seorang yang diminta untuk menulis suatu kenangan dalam buku kenang-kenangan mengenai kehidupan ayahandanya Bapak Dr. Mohammad Hatta……”.

Gambaran mengenai sosok Bung Hatta yang teguh hati nya telah terlihat sejak kecil, mengenai hal ini digambarkan oleh kakak Bung Hatta yaitu Ny R. Lembaq Tuah pada kejadian berikut, “Pernah pada suatu saat Hatta memiliki sebuah block-note yang baru,  belum terpakai, yang diletakkannya di atas meja belajarnya. Pada suatu ketika, Hatta menemukan satu lembar dari block-note nya telah terisi tulisan salah satu paman kami. Paman mencatat beberapa perintah untuk tukang yang sedang bekerja di rumah kami. Hatta protes, marah dan menangis. Paman kemudian membujuknya, “Baiklah, apa yang sudah kutulis disitu disobek saja.” Hatta menjawab, “Tidak Boleh.” “Baiklah, paman akan ganti dengan yang baru.” Namun, Hatta tetap saja tidak mau. Hatta tidak menginginkan yang baru, melainkan, dia kecewa karena barangnya diganggu dan kenapa paman kami tidak meminta izin terlebih dahulu. Hatta tetap menangis, dan pada akhirnya paman pun ikut menangis, karena paman tidak tahu apa yang harus dilakukannya.” Bung Hatta memiliki tingkat kedisiplinan yang sangat tinggi, dan watak ini menurun pula pada kucing kesayangan beliau yang diberi nama Jonkheer, dalam hal ini dikisahkan sendiri oleh anaknya yaitu Gemala Hatta seperti berikut “ Dalam hal ketertiban inilah ayah memandang Jonkheer sebagai kucing yang tahu kedisiplinan. Kucing ini memang luar biasa, seakan-akan sudah ada kontak batin antara ayah dan kucing itu. Bilamana ayah sedang keluar rumah, maka ia senantiasa menunggu ayah pada saat ayah kira-kira akan kembali ke rumah. Bilamana kami setiap akhir minggu menghabiskan hari sabtu-minggu di megamendung, maka setiap minggu sore mulai dari jam 5 sore, jonkheer sudah menunggu kedatangan kami di muka rumah. Begitu ia melihat ayah turun dari mobil maka Jonkheer dan kucing-kucing lainnya langsung mengerubungi ayah….”

Berbeda dengan Bung Karno yang menempuh pendidikannya di dalam negeri, Bung Hatta menempuh pendidikan nya hingga ke negeri Belanda. Di Belanda lah ia kemudian memperoleh gelar sarjana ekonomi-nya, dan di negeri kincir angin ini pulalah ia memperjuangkan tanah air nya Indonesia dengan membentuk perkumpulan pemuda-pemuda Indonesia yang diberi nama Perhimpunan Indonesia dan ia sempat pula menjadi ketua dari perhimpunan tersebut. Dalam rangka perjuangannya itu pula, ia pun mengikuti konferensi kepemudaan yang di gagas oleh pemuda-pemuda dari negara-negara lainnya. Disana pula ia berteman dengan Pandit Jawaharlal Nehru, seorang tokoh nasional India. Mereka bersama-sama berjuang untuk memerdekakan bangsa nya dari belenggu penjajahan. Kalau Bung Karno dan kawan-kawannya ditangkap oleh Belanda karena terlalu vokal dalam mengkeritik pemerintahan Belanda, maka Bung Hatta pun juga bernasib sama. Beliau pun juga ditangkap lalu dipenjarakan di negeri Belanda. Karena desakan dari para pemuda – pemuda di Indonesia, maka Bung Hatta dan kawan-kawannya pun dibebaskan kembali, bahkan kemudian Bung Hatta cs, ditawari untuk duduk dalam lembaga perwakilan rakyat di Belanda. Namun, hal ini kemudian malah menjadi pertentangan di dalam negeri, dimana Bung Karno dkk, menganggap bahwa Bung Hatta sudah “melunak” dan menjalin kerja sama dengan Belanda, hal ini bisa dibilang sebagai awal pertentangan antara Bung Karno dengan Bung Hatta.

Halaman pembuka

Halaman pembuka

Seperti Bung Karno yang mengalami pengasingan (interniir), maka Bung Hatta juga mengalami nya. Tak lama setelah ia menjejakkan kaki nya di Indonesia, maka ia pun ditangkap lalu dikirim ke daerah pembuangan, bersama dengan Sutan Sjahrir, mereka dibuang ke Boven Digul lalu ke Bandaneira. Di Bandaneira inilah mereka mengangkat anak, salah satu anak yang diangkat adalah Des Alwi, seorang tokoh sejarah nasional, berikut penuturan Des Alwi mengenai kenangannya terhadap Bung Hatta, “ Om Hatta selalu terlihat serius, untuk itu kami menjulukinya “Oom Kacamata”. Oom Hatta sangat teratur menyusun acara-acara nya yang dilakukan setiap harinya. Mengajar murid jam 11.00, membaca jam 13.00 hingga 14.00. Setelah makan siang, dilanjutkan dengan istirahat siang selama satu jam. Di sore hari terlihat Oom Hatta berjalan kaki menelusuri kebun-kebun pala dan berkeliling kampung……Oom Hatta juga mulai bisa berenang setelah mendapat “pendidikan” berenang dari kami. Tetapi kalau berenang, ia hanya berenang di tepi laut saja, sedangkan ayah angkat kami, Oom Sjahrir bersama bocah-bocah lainnya sering terlihat berada di tengah atau sering menyeberang ke pulau gunung api. Keunikan Oom Hatta kalau berenang adalah selalu mengenakan sepatu tennis, hingga baginya ada julukan tambahan, “Oom kacamata dengan sepatu kelinci”.

Bung Hatta merupakan orang yang sangat menghargai waktu. Hidup beliau sudah diatur dengan rapi dan teratur. Bila ada orang yang ingin berjumpa dengannya, maka orang tersebut harus membuat janji terlebih dahulu, kalau terlambat maka sudah dipastikan Bung Hatta tidak mau untuk menemuinya, oleh sebab ketepatan waktu nya tersebut maka muncul istilah “Jam Hatta”. Didalam buku ini, hampir tiap orang menuliskan mengenai persoalan ketepatan waktu-nya Bung Hatta ini. Salah satu nya seperti dituliskan oleh sahabat beliau yaitu Bahder Johan sebagai berikut, ”….Di waktu menjabat sebagai wakil presiden, suatu kali Hatta dengan pesawat berangkat ke semarang. Ditetapkan, pesawat akan mendarat pukul 08.00 pagi. Pejabat-pejabat telah menunggu di bawah, rupanya pesawat agak kecepatan 5 menit. Hatta kemudian meminta pilot agar berputar-putar di udara, agar tepat pada waktunya mendarat di lapangan terbang.” Cerita diatas menurut penuturan Bahder Johan, bukanlah sebuah lelucon, karena ketika beberapa tahun setelah kejadian itu berlalu, Bahder Johan menanyakannya langsung kepada pejabat polisi, dan pejabat itu berkata “ Itu bukan anekdot (lelucon), tetapi itu benar terjadi, karena saya sendiri hadir di waktu itu”. Adapun kisah lain dituturkan oleh kemenakan beliau Marhamah Djambek, seperti berikut “Tentang waktu Oom Hatta sangat disiplin. Sehubungan dengan ini aku pernah mendengar ayahku yang suatu kali terpaksa terlambat karena arus lalu lintas dan sangat takut kena marah. Tiba-tiba saja ayah mendapat akal untuk terhindar dari kemarahan tersebut. Ayah memutar mundur arlojinya, sehingga ketika tiba dirumah Oom waktunya menunjuk tepat seperti janji. Waktu ayahku berhadapan dengan Oom, pertama-tama beliau menegur keterlambatan ayah, tetapi ayah berkata bahwa ia telah datang tepata pada waktunya menurut arlojinya. Oom mengira ayah memang benar, arloji beliaulah yang berbeda, sehingga ayah pun terhindar dari kemarahan Oom. Tentu saja keterlambatan ini tidak lebih dari lima atau sepuluh menit, sehingga Oom percaya.”

Selain dikenal dengan pribadi yang sangat menghargai waktu, Bung Hatta pun dikenal dengan keteguhan hati nya. Karena keteguhan hati nya ini pula yang kemudian membuatnya untuk mengambil keputusan dengan mengundurkan diri dari jabatannya selaku wakil presiden Indonesia, karena ia merasa telah tidak sejalan dengan Bung Karno. Dengan mundurnya Bung Hatta, maka berakhir pulalah kebersamaan mereka, dan hilang sudah istilah Dwitunggal itu. Mengenai keteguhan hati bung Hatta ini dituturkan pula oleh istri beliau yaitu Ibu Rahmi Hatta sebagai berikut, “…..Maka kami pun memaklumi bahwa Bung Hatta tidak menghendaki kunjungan ke Singapura lagi setelah negara itu menjatuhkan hukuman mati kepada 2 orang marinir Indonesia dengan jalan digantung. Beliau tidak melarang keluarganya untuk berkunjung ke Singapura, asalkan dirinya saja yang tidak menginjakkan kakinya ke sana lagi. Bagi beliau ini soal prinsip. Hukuman dengan cara digantung baginya merupakan penghinaan terhadap negaranya, karena presiden Soeharto pun pernah memintakan pengampunan bagi kedua marinir itu, tetapi tetap ditolak oleh pemerintah Singapura. Beberapa tahun setelah peristiwa itu, ada tawaran undangan dari kawan-kawan dekat kepada beliau untuk mengunjungi Singapura. Kami keluarga pernah lupa akan hal itu, tetapi Bung Hatta tidak pernah melupakan prinsipnya, dan sekali lagi menolak undangan itu secara baik-baik. Beliau tidak merasa perlu menyebarluaskan alasan penolakannya, hanya kami saja, terutama saya yang mengetahui alasan beliau menolak undangan ke Singapura itu.”

Buku ini bisa dibilang merupakan refleksi terhadap Bung Hatta dari sisi orang-orang yang pernah berada di dekat beliau selama hidupnya. Bagi saya buku ini sangatlah worthed untuk dimiliki, karena dengan ini kita dapat melihat seorang sosok proklamator dari sisi yang lain. Karena menurut saya biografi beliau yang ditulis oleh beliau sendiri yaitu Memoir, tidak banyak mengungkap tentang siapa sosok sesungguhnya dari tokoh nasional bangsa ini dalam keseharian beliau. Buku ini bisa menjadi pelengkap dari buku-buku lainnya yang membahas tentang Bung Hatta. Sebenarnya apa yang saya tuliskan diatas hanya merupakan sebagian kecil dari isi buku ini yang membahas tentang sisi lain dari salah seorang proklamator bangsa ini. Menurut saya, buku ini sangatlah penting untuk dimiliki oleh generasi muda saat ini untuk mengetahui siapa sosok sebenarnya dari Bung Hatta dan mempelajari sifat-sifat tauladan beliau. Semoga saja di kedepannya nanti, pihak penerbit dan ahli waris keluarga Bung Hatta, akan menerbitkan kembali buku ini. Karena dari yang saya lihat saat ini, beberapa penerbit kembali menerbitkan buku-buku cetakan lama terutama yang berkaitan dengan tokoh-tokoh nasional bangsa ini.

Akhir kata, saya mohon maaf jikalau dalam penulisan kali ini terdapat salah kata dan kalimat. Semoga dikedepannya nanti akan lahir tokoh-tokoh yang memiliki kapabilitas, kecakapan, dan kepribadian seperti Bung Hatta…..

One thought on “Bung Hatta – Pribadinya dalam kenangan

  1. Subhanallah, memang pemimpin sejati..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s