SkyLovers

Sebuah tulisan, sebuah cerita…

Dit Heeft Ali Sadikin Gedaan !

Leave a comment

FOK_JOKAkhir – akhir ini pemilihan pemimpin DKI 1 menjadi topik yang paling hangat di negeri tercinta ini. Selain isu-isu lain yang juga hangat tentunya seperti kasus simulator di kepolisian, korupsi badan anggaran yang melibatkan mantan puteri indonesia, dan yang paling gress adalah kasus kembali maraknya isu teror di masyarakat. Pilkada DKI sendiri merupakan salah satu topik yang paling banyak menghiasi wajah media cetak maupun elektronik. Khususnya pada bulan mei hingga september ini. Terlebih lagi pada pilkada putaran kedua yang tinggal menyisakan 2 kuda pacuan lagi untuk mencapai garis finish. Kedua belah pihak yang bersaing satu sama lain semakin gencar untuk mempromosikan visi dan misi nya antara satu sama lain kepada warga jakarta. Tak jarang pula kedua belah pihak juga saling melontarkan serangan kepada pihak lainnya, yang tentunya menambah “panas” aroma persaingan untuk memperebutkan kursi DKI 1.

Persaingan perebutan kursi DKI 1 yang melibatkan kubu petahana yang dimotori oleh Foke – Nara versus golongan yang membawa misi perubahan yang digalang oleh Jokowi-Ahok. Foke sendiri adalah seorang lulusan dari universitas di jerman dengan keahlian dibidang tata kota dan sudah kenyang makan asam garam sebagai aparatur daerah. Hampir semua posisi jabatan administrasi daerah sudah pernah ia jabat, seperti sekretaris daerah, wakil gubernur, dan sekarang gubernur. Dan wakilnya adalah Nachrowi Ramli yang merupakan seorang bekas jenderal angkatan darat, yang tentunya juga latar belakang kepemimpinannya sudah tidak perlu dipertanyakan kembali. Lawan dari kubu petahana tersebut adalah pasangan Jokowi -Ahok dimana keduanya adalah sosok yang dinilai akan membawa angin perubahan.  Jokowi sendiri merupakan sosok yang pada tahun-tahun ini populer dikalangan masyarakat. Selain karena dinilai telah membawa perubahan di kota solo, nama nya juga populer di awal tahun ini saat ia memutuskan menggunakan mobil esemka karya anak-anak SMK sebagai mobil dinasnya. Terang saja hal ini menambah popularitasnya di mata masyarakat dan boleh dibilang setara dengan menteri BUMN Dahlan Iskan. Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama sendiri juga merupakan bupati yang dinilai berhasil sewaktu menjabat sebagai bupati belitung timur. Terpilihnya Basuki sebagai calon wagub untuk mendampingi Jokowi merupakan peran dari Prabowo Subianto yang disinyalir untuk memperkuat dirinya yang akan maju dalam pilpres 2014, ada yang bilang juga langkah prabowo dengan menggaet basuki adalah sebagai langkah cuci tangan prabowo atas “dosa” yang telah ia lakukan dulu di tahun 1998, wallahualam.

Eh, saya minta maaf sebelumnya karena tulisan yang saya tulis ini sebenarnya tidak akan menjelaskan kapabilitas-kisah dua pihak yang sedang bertarung dalam pilkada DKI tersebut. Karena tulisan mengenai kemampuan-persaingan-kisah dari dua kuda pacuan tersebut sudah banyak diinternet-dimedia cetak maupun elektronik. Namun begitu kisah persaingan antara Foke-Nara dan Jokowi-Ahok menjadi prolog dari tulisan ini. Yup jadi kali ini saya akan mencoba untuk mengisahkan tentang seseorang yang pada masa lalu dinilai telah mampu membawa Jakarta menjadi sebuah kota metropolitan seperti saat ini. Ya orang yang akan saya kisahkan kali ini adalah Ali Sadikin, atau warga jakarta sering menyebutnya dengan panggilan Bang Ali.

Di masa lalu, Jakarta merupakan kota yang sangat kumuh, tidak teratur secara ilmu tata kota saat itu. Hal ini tentunya sangatlah memalukan, karena Jakarta merupakan ibukota dari suatu negara yang memiliki garis pantai paling panjang di dunia yaitu Indonesia, Jakarta merupakan pintu gerbang masuknya tamu-tamu asing, investor asing  yang tetunya kita akan sangat malu jika pintu gerbang nya saja dalam kondisi yang sangat kotor dan kumuh.  Dan pada saat itu sekitar tahun 1966 atas perintah Bung Karno, ia menunjuk Mayor Jenderal (KKO) Ali Sadikin untuk menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.  “Jakarta butuh seseorang yang sedikit een bejik koppig heid untuk menertibkan tuan-tuan dan nyonya-nyona yang seenak perutnya sendiri” begitulah petik titah Bung karno pada saat itu. Yang terjadi kemudian terjadilah, Ali Sadikin menjabat sebagai gubernur DKI selama 2 periode (1966 – 1977) dan bisa dibilang hanya dia sampai saat ini yang mampu memerintah DKI dengan baik dan terorganisir.

Sosok Ali SadikinSaat Ali sadikin menjabat posisi gubernur, tentunya keadaan dan tantangannya berbeda dengan saat ini. Di masa ia menjabat, posisi gubernur, bisa dibilang jakarta jauh panggang dari api sebagai ibukota negara indonesia. Kesemrawutan terjadi di segala lini. Dana APBD jauh dari apa yang diharapkan. Kemacetan juga telah terjadi di Jakarta (bayangkan pada saat itu tahun 1966, jakarta sudah macet, apalagi sekarang). Gubernur sebelumnya sudah mewariskan segunung pekerjaan yang harus diselesaikan oleh seorang jenderal KKO Ali Sadikin.  Dan dia pun menjawab tantangan tersebut dengan sangat baik, bahkan namanya sangat melegenda hingga saat ini. Dalam buku biografi nya yang ditulis oleh Ramadhan K.H, disitu ditulis mengenai cerita-cerita, kisah-kisah, dan pandangan Ali Sadikin saat menjabat gubernur Jakarta.  Visi dan Misi nya yang maju telah membawa Jakarta yang tadinya kumuh menjadi sebuah ibukota yang mencermikan kepribadian bangsa Indonesia, Jakarta menjadi sebuah tempat tinggal yang nyaman untuk ditinggali oleh warganya. Saat awal memimpin Jakarta bisa dibilang Ali Sadikin buta tentang ilmu pemerintahan dan tata kota, berbeda dengan Foke yang katanya merupakan lulusan dari ilmu tata kota serta kenyang makan asam garam dibidang pemerintahan. Ali Sadikin hanyalah seorang mayor jenderal KKO (sekarang marinir.red) yang sebagian besar hidupnya tentunya lebih paham urusan maritim. Tantangan yang diberikan oleh Bung Karno, kemudian di jawab oleh bang Ali dengan bekerja turun langsung ke lapangan dan tidak banyak berdiam dibalik meja. Pemimpin sebelumnya tidak memberikan catatan-catatan mengenai kekurangan  yang harus dikerjakan oleh Ali sadikin saat itu, sehingga tidak ada cara lain bagi Ali Sadikin untuk terjun langsung melihat apa yang dibutuhkan oleh Jakarta pada saat itu. Berdesak-desakan di angkutan kota yang penuh sesak dengan penumpang, bercampur dengan bau dan keringat serta ikut turun mengatur lalu lintas di jalanan pernah dilakukan oleh Ali Sadikin semasa menjabat sebagai gubernur.

Hal pertama yang dilihat Ali Sadikin saat menjabat sebagai gubernur adalah mengenai anggaran pemerintah daerah yang dimiliki jakarta pada saat itu. Jakarta pada saat itu memiliki anggaran yang terlalu kecil untuk bisa membenahi semua masalah yang ada. Bahkan anggaran tersebut tidak cukup untuk menutup kebutuhan DKI saat itu. Tak pelak hal ini membuat Ali Sadikin pusing tujuh keliling. Saya pernah membaca sebuah quotes dari seorang astronot amerika yang mengatakan “Given the desire to do it, human can accomplish almost anything”. Ya, itulah yang kemudian terjadi pada seorang Ali Sadikin. Dengan didorong keinginan untuk memajukan Jakarta, maka tidak ada halangan apapun bagi dirinya. Langkah yang kemudian ditempuh oleh Ali Sadikin untuk mengatasi problem anggaran adalah dengan memungut pajak dari kegiatan berJUDI. Ya, judi yang dalam lagu nya Rhoma Irama merupakan suatu kegiatan yang diharamkan dalam agama Islam dan dapat membuat manusia menjadi miskin karenanya.  Langkah Ali Sadikin ini tentunya menjadi kebijakan yang pro dan kontra terutama di kalangan ulama pada saat itu. Bagaimana tidak, dengan mengambil pajak dari judi itu berarti jakarta akan dibiayai oleh suatu kegiatan yang diharamkan dalam agama, dan menurut  ulama apapun yang diharamkan oleh agama maka hasilnya tidak akan berkah. Tak hanya dari judi saja Ali Sadikin memungut pajak, namun juga di sektor-sektor lainnya. Hal ini semata-mata bertujuan untuk memenuhi kas daerah yang saat itu bisa dibilang sedikit sekali. Pelayanan adalah uang, dan uang adalah pajak. Tidak ada uang maka tidak ada pelayanan begitu katanya. Dari hasil pajak daerah tersebut nantinya Jakarta dapat membangun sejumlah fasilitas pelayanan umum.

Judi

Ali sadikin pun dalam bukunya mengatakan bahwa sebenarnya dia juga telah memikirkan cara lain untuk memenuhi kas DKI dengan cara program zakat. Namun ternyata cara ini pun tidak membuahkan hasil yang cukup. Sehingga tidak ada cara lain selain menggunakan pajak dari bisnis perjudian. Toh kemudian Jakarta dengan hasil pajak judi nya mampu membangun ratusan sekolah, puskesmas, jalan-jalan raya, dsb. Ali sadikin pernah mengatakan kepada para ulama – ulama tersebut untuk sebaiknya membeli HELIKOPTER saja karena jalan-jalan di ibukota akan dibiayai dari pajak JUDI. Ali sadikin memiliki pandangan bahwa kegiatan judi-hwahwe itu merupakan kegiatan yang lumrah bagi orang-orang non-muslim terutama dari kalangan tionghoa. Orang tionghoa menganggap bahwa kegiatan judi itu merupakan budaya yang telah ada sejak zaman nenek moyangnya dulu, dan itu tidak diharamkan bagi mereka. Jadi kalau ada orang muslim yang berjudi itu tentunya bukan salah dari gubernurnya tapi yang salah adalah individu itu sendiri, dan di jakarta sendiri saat itu memang sudah ada judi-judi toto-hwahwe seperti itu, namun masih tertutup dan jumlahnya juga lumayan banyak. Sehingga Ali Sadikin berpikiran untuk melegalkan kegiatan tersebut dan memungut pajaknya untuk anggaran DKI. Dan pada akhirnya anggaran pendapatan DKI menjadi lebih besar dari apa yang telah ia perkirakan, dari anggaran itu pula ia dapat membantu beberapa proyek-proyek yang seharusnya bukan tanggung jawab pemerintah daerah.

Kebijakan lain dari ali sadikin yang dirasakan oleh warga jakarta adalah dengan membangun pusat kebudayaan yaitu Taman Ismail Marzuki serta membangun arena pekan raya jakarta yang hingga saat ini masih dirasakan manfaatnya oleh warga ibukota. Taman Ismail Marzuki ia rancang sebagai wadah untuk para seniman dalam menyalurkan ekspresinya, karena ia berpikiran pada saat itu belum ada tempat dimana para seniman untuk menyalurkan kreasinya masing-masing. Kebudayaan asli betawi pun ia hidupkan kembali.  Ia perintahkan Ciputra untuk melihat taman-taman bermain yang ada di luar negeri, dan kemudian membangun pusat bermain di ancol.  Selain itu pula Ali sadikin ikut turut berperan membangun lembaga bantuan hukum, yang lucunya juga ia katakan bahwa ia sebagai aparatur daerah sering berurusan pula dengan lembaga yang ia ikut bantu dirikan tersebut. Ali sadikin juga membenahi struktur kepangkatan yang ada pada pemerintahan ibukota menjadi lebih terorganisasi seperti yang ada pada struktur organsasi di militer. Ali sadikin merupakan orang yang sangat menerima kritikan sejauh kritikan tersebut memang tidak mengada-ada. Karena ia berpandangan bahwa hanya dengan kritik-lah ia mampu memperbaiki kinerjanya sebagai gubernur. Tak jarang pula ia berselisih paham dengan kalangan elit, seperti ketika ia menanyakan anggaran daerah kepada menteri keuangan saat itu yaitu Ali Wardhana dan juga ketika ia menanyakan kepada presiden Soeharto mengenai pengangkatan perwira di angkatan laut. Ia akan memperjuangkan haknya apabila memang ia pantas untuk memperolehnya.

Taman Ismail Marzuki

Tercatat dalam biografinya, ia telah menampar dua orang selama menjabat sebagai gubernur. Yang pertama adalah saat menampar supir truk berplat militer yang mengendarai secara ugal-ugalan di jalan raya, dan yang kedua adalah saat menampar seorang pemimpin perusahaan kontraktor yang ia anggap tidak menjalankan proyek sesuai dengan apa yang sudah diamanatkan kepada orang tersebut. Tapi dari semua yang telah saya baca, ada satu tindakan dari Ali Sadikin yang menurut saya jarang ditemui dari pemimpin-pemimpin di Indonesia saat ini. Yaitu tidakan yang ia lakukan saat pemilihan umum di tahun 1977 dimana saat itu dalam bukunya ia mengatakan bahwa ia yang saat itu notabene adalah seorang pegawai sipil yang mana di era orde baru seluruh pegawai sipil sudah pasti harus memilih Golongan Karya, mengatakan bahwa ia tidak akan memihak atau menjadi tim pemenangan atau bahkan berbuat curang untuk memenangkan golkar. Dan memang apa yang terjadi kemudian di jakarta saat itu adalah suara golkar kalah dari PPP. Menurut saya hal ini sudah sangat sulit ditemukan di indonesia saat ini dimana parpol yang menaungi pemipinnya malah kalah dari partai lain. Coba saja dicari, kalau bisa ketemu itu tentu kemungkinannya tentu 1:1000.

Proyek pembangunan kampung yang di sebutkan oleh Jokowi saat kampanye di jakarta, juga pernah dilakukan oleh Ali Sadikin. Saat itu kondisi kampung di jakarta sudah mulai tidak teratur, oleh sebab itu kemudian ia mencanangkan proyek MHT atau M. Husni Thamrin. Inti dari proyek ini adalah dengan menciptakan sebuah pemukiman yang sederhana namun rapi dan sehat bagi masyarakat perkampungan di jakarta. Bisa dibilang proyek inilah yang kemudian menjadi melambungkan nama Ali Sadikin. Proyek yang pada awalnya tidak mendapat dana dari pusat, dan oleh sebab itu pendanaan proyek ini berasal dari APBD DKI saat itu.  Proyek transportasi massal pun juga sudah mulai dibangun saat Ali Sadikin menjabat sebagai gubernur. Langkah yang ditempuh oleh ali sadikin adalah dengan menyediakan sejumlah bus-bus berukuran besar dan tempat pemberhentian di berbagai titik guna mengangkut warga yang akan berpergian. Proyek Bus kota ini ditujukan guna menggantikan peran oplet (semacam kendaraan seperti mikrolet yang saat itu marak di jakarta) yang jumlah sangat banyak sehingga menambah ruwet nya transportasi ibukota. Ali sadikin sudah mencanangkan apabila jumlah warga semakin banyak maka moda transportasi yang baru yang mampu mengangkut ratusan bahkan ribuan orang pun harus dipikirkan dan dibuat.

Bisa dibilang pada saat itu (Sekitar tahun 1970-an) nama Ali Sadikin terus meroket dan menyaingi popularitas presiden Soeharto. Bahkan namanya semakin terkenal saat terjadi kasus MALARI (Malapetaka Lima Hari) yang menghebohkan itu. Dimana saat itu terjadi kerusuhan sebagai akibat penolakan mahasiswa terhadap kedatangan PM Jepang, yang kemudian Ali Sadikin turut datang ke kampus UI untuk menertibkan para demonstran. Dan ia pun disambut oleh para mahasiswa yang menggunakan kaos bergambar dirinya. Bahkan para mahasiswa mengusulkan Ali Sadikin untuk menjadi calon presiden alternatif untuk menggantikan Soeharto.

Sosok Ali sadikin muda

Ali Sadikin yang merupakan adik dari Hasan Sadikin (nama sebuah rumah sakit di bandung) bukanlah kelahiran asli jakarta, ia lahir di sumedang pada tahun 1927 dan menjadi gubernur DKI di usia 39 tahun dan berhenti ketika usianya mencapai 50 tahun. Ia kemudian digantikan oleh Tjokropranolo di tahun 1977. Ali sadikin meninggalkan kursi jabatan gubernur dengan diiringi tangis dari ribuan warga jakarta dalam acara perpisahan yang cukup meriah. Ali Sadikin meninggalkan sisa anggaran sebesar 155 Milyar rupiah, jumlah yang berkali-kali lipat besarnya dibandingkan saat ia memimpin jakarta di awal jabatan nya dahulu. Setelah tidak menjabat sebagai gubernur, Ali sadikin tidak pernah lagi menjabat suatu posisi yang prestisius. Ia hanya pernah menjabat sebagai ketua umum PSSI, dan saat ia menjabat sebagai ketum PSSI, sepak bola indonesia dibawanya ke prestasi yang cukup tinggi. Seperti yang pernah di katakan juga oleh Bung Karno saat melantiknya sebagai gubernur jakarta “Dit Heeft Ali Sadikin Gedaan !“, inilah yang telah diperbuat oleh Ali Sadikin. ia kemudian juga ikut dalam kelompok petisi 50 yang terdiri atas tokoh-tokoh nasional seperti A.H Nasution, mantan kapolri Hoegeng, dll, mereka mengkritisi kebijakan presiden soeharto yang dinilai menyimpang dari amanat rakyat. Bang Ali begitu sapaan akrabnya wafat di tahun 2008. Sampai saat ini belum ada gubernur pengganti yang kapabilitas nya melampaui atau bahkan menyamai seorang Ali Sadikin dalam mengelola tata kota DKI yang serba rumit dan dinamis.

Lalu jika kita menilik kembali kapabilitas dari para kandidat cagub-cawagub yang ada sekarang apakah mereka akan membawa jakarta menjadi lebih baik ? kalau dilihat dari hasil yang telah dicapai foke hingga 5 tahun masa kepemimpinannya tentunya masyarakat jakarta akan lebih bisa untuk menjawabnya. Sedangkan untuk  jokowi, kemampuannya untuk merubah wajah solo hingga menjadi seperti saat ini tentunya tidak perlu diragukan kembali.  Nah pertanyaannya apakah jika terpilih menjadi gubernur, apakah Jokowi mampu melakukan seperti apa yang telah dilakukan oleh Ali Sadikin di masa lalu? Tentunya waktu yang akan menjawabnya.

Bundaran HI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s