SkyLovers

Sebuah tulisan, sebuah cerita…

Sothel-sothel 1 : Memilih Kamera Digital

Leave a comment

Kamera digital

Sekarang saya akan mencoba sothel-sothel ( sok tau.red ) menulis artikel tentang kamera digital. Maklum saya sendiri termasuk pemula di bidang photografi, dan masih butuh banyak pembelajaran. Namun, saya akan mencoba menuliskan beberapa pengetahuan tentang fotografi dasar. Mungkin sudah banyak tulisan tentang fotografi yang bisa dicari baik di majalah maupun di internet, namun kali ini saya akan menulisnya dengan bahasa dan pikiran saya sendiri.

Fotografi bisa dibilang sangat berkembang akhir – akhir ini, kalau bisa saya bilang bahwa dunia fotografi ini berkembang pesat sejak ada jejaring sosial di internet, dimana setiap orang bebas untuk meng-upload gambar hasil karya nya masing-masing untuk “dipamerkan” di jejaring tersebut. 4 tahun yang lalu saya katakan bahwa dunia fotografi tidak lah semarak seperti saat ini, kalau gak salah ingat zaman 4 tahun yang lalu ( medio 2004-2006 ) adalah marak-marak nya handycam. Setiap orang pasti memiliki handycam, untuk kemudian beramai-ramai membuat film dengan berbekal kaset mini dv plus handycam. Namun sekarang zaman telah bergeser,dari yang tadi nya demam rekam-merekam menjadi demam jepret-menjepret.

Hal ini mungkin karena harga kamera digital yang semakin murah, dan terjangkau. 3 tahun yang lalu (2007), harga kamera digital sudah mencapai 3.7 jt ( versi pocket ) dan 4-5 juta sudah bisa dapat (SLR ). Coba bandingkan dengan harga nya ketika tahun 2004-2005 dimana harga kamera poket masih di kisaran 5 jt dan untuk SLR mungkin jauh lebih mahal lagi. Sedangkan harga handycam saat itu dikisaran 3-5 juta, dan yang 6 juta keatas sudah bisa motret dengan resolusi 3 Megapixel. Sehingga bisa dibilang pasar pada saat itu lebih memilih handycam daripada kamera digital. Sedangkan saat ini kenyataan berbalik, dimana pasar kamera digital mulai menjamur bak cendawan di musim hujan. Terlebih-lebih saat ini setiap produsen saling berlomba-lomba untuk menawarkan yang terbaik bagi pelanggannya.  3 Tahun lalu saya membeli kamera digital pertama saya, yaitu sony Cybershot T-100 kamera ini adalah kamera versi saku ( pocket ) dengan resolusi mencapai 8 Megapixels. Kamera ini kalau tidak salah dihargai sekitar 3,7 juta-an pada saat itu. Namun jika kita sekarang membeli dengan harga segitu ( 3.7 red ) kita mungkin tinggal menambah beberapa ratus ribu lagi sudah bisa mendapatkan kamera dengan kelas SLR pemula.

Sony Cybershot T-100

Sony Cybershot T-100

Ya, kemajuan ilmu teknologi yang semakin pesat, membuat harga-harga kamera digital menjadi murah meriah.  Dan tinggal konsumen lah yang menentukan ingin membeli kamera dengan jenis apa dan untuk kegunaan apa. Kalau dulu tiap orang pasti akan melihat berapa resolusi gambar yang mampu dihasilkan oleh kamera tersebut (khusus kamera saku ), semakin tinggi resolusi nya maka akan semakin baik gambar yang dihasilkan. Saya sendiri termasuk orang-orang tersebut, pertanyaan pertama pasti adalah: “Berapa megapixel kamera ini ??? “.  Yang kedua adalah berapa kali optik nya ??? semakin jauh kemampuan optik nya ( 3x, 5x, 10x ) menangkap gambar maka akan semakin baik hasilnya.  Dan di kamera saku juga dikenal adanya digital zoom, yaitu kemampuan untuk menangkap gambar sejauh mungkin dengan bantuan olah digital, jadi berbeda dengan optical zoom yang menangkap gambar dengan menggunakan lensa nya. Biasanya digital  zoom ini jaraknya bisa jauh sekali, namun semakin jauh objek yang ditangkap maka akan semakin menurun kualitas gambar yang dihasilkan oleh nya.

Saat ini mungkin bisa dibilang keberadaan kamera pocket mulai mendapat saingan dari kameran kelas SLR ( single lens reflex ), hal ini karena harga kamera SLR sudah mulai terjangkau ,dengan dana 4 JT-an  kita sudah bisa membawa pulang SLR beserta lensa nya. Namun tentunya pasar kamera saku juga masih mendapatkan tempat dikalangan konsumen.  Untuk kamera SLR, saya sendiri memiliki kamera DSLR pertama saya adalah Nikon D5000, yang saya beli pada tahun 2009 yang lalu. Berbeda dengan waktu saya membeli kamera saku, pada waktu membeli kamera SLR ini saya masih buta dalam artian tidak tahu menahu mengenai SLR. Yang saya tahu adalah cuma satu, berbekal kamera ini kita akan tampak lebih PRO ( pendapat yang bodoh 😀 ), hehehe. Sehingga saya coba mencari tahu tentang kamera ini di internet.  Pada waktu itu saya mendapatkan informasi bahwa kamera ini adalah keluaran terbaru dari Nikon, dimana kamera ini memiliki resolusi 12.1 Megapixels dengan dibekali lensa dengan range 18-55mm ( apa lagi itu ?? karena di kamera poket hanya ada 3x, 5x, dst ). Kamera SLR ini juga telah dilengkapi dengan kemampuan untuk merekam video, untuk diketahui bahwa fitur merekam video sebelumnya tidak ada pada kamera-kamera jenis SLR. Jadi kesimpulan yang saya ambil saat itu adalah kamera keluaran terbaru dari Nikon, dengan kemampuan yang tentunya up to date pada saat itu, dan mampu merekam video. Jadilah kemudian saya “bungkus” kamera tersebut. Setelah saya memiliki nya dan mulai belajar menggunakan kamera tersebut ( cukup susah untuk mempelajari kamera SLR jika dibandingkan dengan kamera saku ) maka saya menemukan beberapa kekurangan yang ada pada kamera ini.

Nikon D5000

Nikon D5000

Yang pertama adalah ternyata bodi kamera ini tidak dibekali dengan motor penggerak lensa. Sebenarnya saya sudah mengetahui nya ketika akan membeli kamera ini, namun karena sudah kepincut ya mau bagaimana lagi, dan saat itu kamera dengan bodi yang memiliki motor penggerak lensa  masih cukup mahal sehingga saya tetap mengambil D5000 ini. Karena tidak memiliki motor penggerak pada bodi, maka kita harus mencari lensa yang memiliki motor di dalamnya. Untuk diketahui bahwa SLR adalah tipe kamera dimana kita bisa mencopot dan mengganti lensa nya semau kita (ibarat boneka barbie yang bisa diganti accesories nya ). Nah, celakanya adalah lensa yang memiliki motor itu sangatlah mahal harga nya jika dibandingkan dengan lensa yang tidak memiliki motor. Lensa ini biasanya berkode kan AF-S untuk Nikon, EF-S untuk Canon, dsb. Sebenarnya buat apa sih kita membutuhkan lensa – lensa itu, tidak lain adalah untuk autofocus.

Fitur auto-fokus adalah fitur dimana kita bisa menentukan fokus pada objek yang kita bidik secara otomatis. Sedangkan lawan nya adalah manual-focus, dimana kita harus menentukan focus objek secara manual dengan memutar bagian yang biasa disebut dengan ring pada atas lensa. Harap dibedakan antara memutar ring dengan memutar zoom ( saya dulu sempat kebingungan antara zoom dengan focus ). Kelemahan dengan cara manual, adalah bisa saja kita miss-focus saat sedang melakukan pengambilan gambar, dalam artian objek yang kita tuju malah menjadi kabur dan tidak sesuai dengan keinginan kita. Dengan fitur autofocus maka kita tinggal menekan tombol shutter ( jepret ) pada posisi setengah dan jika sudah terdengar bunyi titit yang berarti bahwa focus nya sudah pas maka kita langsung tekan tombol shutter full hingga terdengar bunyi cekrek, pada kamera versi poket, tentunya sudah ber autofocus semua.

Kembali kemasalah bodi, dengan kamera SLR yang telah memiliki motor pada bodi kameranya, maka kita tidak usah membeli lagi lensa yang memiliki motor karena lensa yang tidak memiliki motor sudah bisa autofocus pada bodi yang memiliki motor,  sebenarnya lensa-lensa tak bermotor ini ( kode di Nikon biasanya adalah AF ) juga bisa digunakan pada bodi kamera SLR yang tidak bermotor, hanya saja kita harus menggunakan manualfocus saat akan mengambil gambar  dari sebuah objek . Tentunya perbedaan ini berimbas pada jumlah uang yang harus dikeluarkan, dimana lensa – lensa yang tidak memiliki motor sangatlah terjangkau jika dibandingkan lensa-lensa yang memiliki motor.

Selain itu masih ada fitur-fitur lain yang dikurangi pada kamera yang sekarang saya miliki ini, seperti flash commander, dsb.  Setiap pabrikan pasti telah memikirkan dengan apa yang dinamakan untung dan rugi. Sehingga bila konsumen memilih kamera dengan harga yang murah, maka tentunya itu dengan fitur-fitur yang terbatas. Dan jika ingin melengkapi nya maka ia harus membeli perlengkapan tambahan yang tentunya dengan harga yang mahal.

Tapi overall kamera ini sudah mampu mencukupi kebutuhan dari pemula yang hanya ingin belajar untuk mengenal dunia fotografi. Sehingga saya memiliki saran jika anda ingin membeli kamera SLR, maka anda sebaiknya memilih sesuai dengan kebutuhan anda. Untuk SLR sendiri biasanya telah diberi kategori oleh produsennya, kelas-kelas nya antara lain adalah kelas pemula yang sering disebut dengan entry-level, kelas semi-professional, dan kelas professional. Jika anda hanya ingin mengenal dan belajar tentang dunia fotografi, maka kelas DSLR- entry level sangat cocok untuk kebutuhan anda. Namun jika ingin lebih serius lagi, maka kelas semi-proffesional atau bahkan Professional bisa anda pilih untuk kebutuhan anda.

Ada beberapa kelebihan dan kekurangan dari kelas – kelas kamera tersebut. Biasanya kalau semakin tinggi kelas nya maka fitur-fitur nya akan semakin banyak dan rumit sehingga susah untuk dimengerti oleh orang awam. Begitu pula sebaliknya semakin rendah kelas nya maka fitur nya akan sangat mudah dipahami dan dimengerti oleh penggunanya. Apapun kamera nya, pelajari lah buku petunjuk yang diberikan oleh produsen dari kamera tersebut dan tanyalah pada orang yang telah berpengalaman di dunia ini.

Berikut adalah tips – tips yang mungkin dapat berguna ketika akan membeli sebuah kamera digital,

1.       Pilihlah jenis kamera sesuai dengan kebutuhan anda, jika anda tidak suka terlalu ribet dan ringkas, maka kamera jenis saku /  pocket dapat anda pilih. Namun, jika ingin lebih dan masih tidak ingin terlalu ribet dalam pengoperasiannya maka kamera jenis SLR – entry level bisa anda pilih.

Pilihlah kamera sesuai kebutuhan anda

Pilihlah kamera sesuai kebutuhan anda

2.       Carilah sebanyak mungkin info dari data teknis, kemampuan, plus-minus  mengenai kamera yang akan anda pilih, kalau masih bingung dengan penjelasan yang ada, maka anda dapat bertanya kepada teman atau orang yang mengerti tentang dunia fotografi.

cari referensi sebanyak mungkin

cari referensi sebanyak mungkin

3.       Dalam membeli kamera digital usahakan anda mendapatkan garansi resmi dari distributor nya ( bukan garansi toko ), namun kalau hanya mendapatkan garansi toko, atau penyalur yang tidak resmi, maka anda harus memperhatikan dengan jeli tentang garansi yang diberikan. Pemegang garansi resmi untuk Sony adalah Sony, untuk Canon dipegang oleh PT.Datascript, sedangkan untuk Nikon adalah PT. Alta Nikindo.

Pastikan kejelasan dari garansi barang tersebut

Pastikan kejelasan dari garansi barang tersebut

4.       Kalau ketiga item diatas sudah terpenuhi, maka langkah selanjutnya adalah menyiapkan dana untuk membeli kamera tersebut,😀

Jangan lupa, ini adalah hal yang terpenting :D

Jangan lupa, ini adalah hal yang terpenting😀

Khusus mengenai masalah garansi, saya punya sedikit cerita tentang kamera D5000 yang sekarang saya miliki. Kamera yang saya beli ini kebetulan adalah garansi resmi dari pihak penyalur nikon-nya ( Alta Nikindo red. ). Suatu ketika saya membaca artikel tentang permasalahan yang ada pada D5000, yang saat itu sedang hangat-hangat nya dibicarakan di forum fotografi. Permasalahannya adalah kamera ini ketika kita pakai tiba-tiba bisa menjadi mati-total alias matot, dan itu dapat terjadi sewaktu-waktu walaupun baterai nya sedang terisi penuh. Usut punya usut ternyata masalah ada di tombol sakelar on-off nya yang kurang baik dari pabrikannya (CMIIW). Dan masalah ini sempat booming dikalangan pengguna D5000 ( termasuk saya, yang  saat itu baru memiliki nya). Beberapa user D5000 sempat terkena masalah dari adanya ”cacat produk” ini, dan mereka yang kelabakan adalah yang memiliki D5000 namun tidak memiliki garansi resmi dari penyalur nya (D5000 yang bermasalah adalah versi awal ketika baru dikeluarkan). Jika sudah begini maka urusan bisa berabe, karena hal ini adalah sebuah kecacatan yang ditimbulkan oleh pabrikan asal si pembuat. Dan yang tidak memiliki garansi resmi, bakal kena charge ketika membawa nya ke penyalur resmi nya. Sedangkan yang saya miliki sendiri, sempat terkena daftar yang harus di –return ke agen resmi nya ( nikon memberikan link situs untuk memeriksa nomor bodi kamera, untuk  mengetahui apakah kamera yang dimiliki juga termasuk kamera yang bermasalah  atau tidak ). Dan saya pun melakukan checking di situs yang diberikan tersebut, setelah saya check ternyata kamera yang saya miliki ikut termasuk dalam daftar yang harus di-return ( damn !! ), namun saya kemudian berpendapat selama kamera ini belum bermasalah, maka saya tidak akan mengembalikan ke tokonya. Dan alhamdullilah, sampai sekarang kamera ini belum bermasalah, dan tetap operasional seperti biasanya. Belakangan ketika saya lakukan check lagi, ternyata kamera saya sudah tidak termasuk kedalam daftar yang bermasalah.

Pada akhirnya walaupun kamera digital telah menjadi murah harga nya, tapi tetap saja dunia fotografi merupakan hobi yang dinilai cukup mahal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s