SkyLovers

Sebuah tulisan, sebuah cerita…

Low Cost Carrier – Ketika Sebuah Kenyamanan dan Keselamtan dipertaruhkan

2 Comments

Sekarang ini marak dengan menjamurnya Airlines – airlines yang bertarif murah. Sebut saja Lion Air, Batavia Air, Mandala Air, Wings Air, dan masih banyak lagi airlines bertarif murah yang lain. Mendengar kata “ MURAH” pastilah menarik bagi orang yang mendengarnya. Banyak sekali iklan – iklan di televisi yang mengatakan anda dapat terbang ke mana saja dengan harga yang sangat terjangkau. Seperti yang dilakukan oleh Air Asia yang merupakan LCC berbendera Malaysia yang memiliki anak perusahaan di Indonesia. Namun apakah dengan harga murah tersebut lantas meninggalkan aspek – aspek keselamatan dan kenyamanan penumpang???

Memang LCC membawa dampak positif  bagi dunia penerbangan di Indonesia. Load factor penumpang yang bepergian menjadi meningkat, namun sayangnya hal ini juga diikuti oleh peningkatan load factor penumpang yang bepergian ke alam baka ( meninggal maksudnya ). Ya angka kecelakaan pesawat di Indonesia termasuk yang paling tinggi di Dunia, yang ujung – ujungnya negara kita diembargo oleh dunia asosiasi penerbangan uni  – eropa. Mungkin mereka takut apabila ada salah satu dari pesawat berbedera Indonesia menabrak landmark disana seperti menara eiffel atau tiba – tiba nyangkut di Bigben. Walaupun pada saat ini tidak ada pesawat –  pesawat dari airline dalam negeri yang melayani jalur ke eropa, namun hal itu menimbulkan citra yang negatif di mata dunia. Oleh sebab itu kalau menurut hemat saya, sudah seharusnya negeri ini berkaca pada diri sendiri dengan membenahi secara menyeluruh regulasi dan mutu transportasi di negeri ini. Pemerintah telah melakukan pemeringkatan airlines – airlines di Indonesia, namun apakah hal itu telah cukup untuk dilakukan ? Banyak kalangan yang malah menanyakan bahwa dengan adanya pemeringkatan posisi airlines tersebut malah membuat citra penerbangan di Indonesia malah makin memburuk. Pada awal dikeluarkannya tabel pemeringkatan tersebut, semua airlines di Indonesia tidak ada yang masuk dalam grade 1 termasuk flag carrier Indonesia yaitu Garuda Indonesia. Sudah saatnya pemerintah melakukan terobosan yang lebih baik lagi daripada sekedar melakukan pemeringkatan, salah satu cara adalah dengan membatasi jumlah airlines yang ada di Indonesia. Karena seperti kita ketahui bahwa jika semakin banyak suatu bidang usaha yang bergerak di satu aspek maka disitulah akan timbul persaingan. Persaingan yang tidak sehat akan muncul dan akan menyebabkan timbulnya korban. Maskapai – maskapai penerbangan secara ber ramai – ramai akan berusaha menarik calon penumpang dengan menyebarkan tiket – tiket murah. Tentunya tiket murah ini perlu dipertanyakan dengan kualitas pelayanan dan perawatan pesawat yang ada. Apalagi di tengah krisis global yang tengah mendera ini, tiket murah yang ada tentunya semakin dipertanyakan lagi. Banyak pengamat yang menyarankan agar banyak dari perusahaan – perusahaan penerbangan itu di merger saja sehingga diharapkan persaingan menjadi lebih sehat dan lebih efisien.
Dahulu waktu masih kecil, saya senang sekali jika akan bepergian naik pesawat, saya selalu duduk paling pinggir dekat dengan jendela agar bisa melihat pemandangan dari atas pesawat. Perlu diakui bahwa ketika naik pesawat terdapat pride tersendiri yang berbeda dengan ketika menumpang moda transportasi lainnya. Namun saat ini sepertinya kalau naik pesawat sudah tidak ada pride-nya lagi, naik pesawat sekarang tak ubahnya seperti naik ”metromini”. Saya katakan seperti itu, karena ketika naik pesawat sekarang yang terasa sudah jauh berbeda dengan naik pesawat pada waktu saya masih kecil. Sekarang ini jika kita naik pesawat, sudah tidak akan dijumpai lagi adanya makanan ”berat”, paling banter hanya roti dan segelas air mineral lengkap dengan tisu kering bukan tisu basah. Bahkan parahnya lagi kita tidak akan diberi makanan walaupun Cuma sepotong roti, layanan itu dihilangkan dan diganti dengan kita membeli makanan dipesawat yang harganya dapat membuat kantong menjadi tipis seketika. Hal ini seperti jika kita sedang bepergian naik bis atau kereta yang ketika berhenti disuatu tempat ( terminal atau stasiun ) maka ada orang yang menawarkan berbagai macam jajanan. Untungnya pramugari  – pramugari tersebut tidak bertingkah laku seperti pedagang asongan yang berteriak kesana kemari. Yang membedakan antara pesawat dengan bis adalah tidak adanya pengamen yang bernyanyi didalam kendaraan. Dan didalam pesawat pun tidak nyaman, seringkali saya jumpai AC yang kadang tidak dingin dan membuat gerah. Selain itu penumpang nya juga orang – orang aneh yang katro dan tidak tahu aturan dalam dunia penerbangan. Kelakuan mereka pun aneh2 seperti masih saja asyik mengobrol melalui ponsel ketika pesawat sudah akan take –off dan sudah berdiri untuk mengambil bagasi ketika pesawat belum sepenuhnya berhenti setelah pesawat landing. Itulah sebabnya mengapa naik pesawat saat ini seperti naik metromini saja. Selain itu tempat duduk yang ”dimampatkan” menambah ketaknyamanan di dalam pesawat, karena sepanjang perjalanan kaki harus menekuk dan tidak ada layanan apapun didalam pesawat. Saya pernah bercanda dengan teman saya, yaitu apakah untuk pembelian tiket yang kita lakukan telah termasuk dengan pelampung atau kita musti menyewa pelampung agar mendapatkan pelampung. Pemberlakuan tiket yang berupa kertas saja tambah membuat naik pesawat menjadi tidak ada pride – nya, kalau dulu tiket pesawat bentuknya sangat eksklusif seperti notes yang panjang dan berisikan berbagai macam peraturan dan tanggal keberangkatan, sekarang hal itu tidak akan dijumpai lagi karena hampir mayoritas airlines telah menggunakan tiket kertas yang tinggal kita bayar lalu di print aja di selembar kertas. Saat ini jika saya naik pesawat maka yang ada hanya perasaan cemas dan tidak tenang, setiap naik pesawat saya hanya berharap semoga pesawat saya segera sampai ditempat tujuan dengan selamat. Jika sedang mengudara dan terdapat guncangan – guncangan saya selalu was – was dan terbayang – bayang akan kejadian – kejadian di berita breaking news atau di tayangan national geographic program second from disaster. Suatu ketika saya pernah naik pesawat dari balikpapan menuju ke yogyakarta, dalam perjalanan tersebut pramugari mengatakan bahwa cuaca sedang tidak baik dan semua penumpang diharap tetap duduk dikursi masing – masing dengan mengenakan sabuk pengaman, otomatis dengan adanya pengumuman tersebut membuat hati saya menjadi tidak tenang ditambah lagi beberapa detik setelah diumumkan, pesawat yang saya tumpangi mulai memasuki awan kelabu dan mulai berguncang guncang sembari mengocok perut.  Ketika sedang asyik membaca kartu pedoman keselamtan dan kartu yang berisi doa – doa dari berbagai agama, saya dikejutkan oleh adanya penumpang yang berdiri dan ingin kekamar kecil.
Ketika hendak berjalan menuju kekamar kecil, tiba – tiba terdengar suara pramugari yang berkata seperti ini : ” Dikarenakan cuaca yang kurang baik maka kami mohon agar para penumpang tetap berada di kursi masing – masing dengan mengenakan sabuk pengaman”, setelah mendengar pengumuman seperti itu maka orang tadi tidak jadi ke kamar kecil dan memilih duduk di kursinya, namun anehnya masih ada aja penumpang yang katro yang mengikuti jejak orang tadi. Mungkin ada sekitar 3  – 4 orang melakukan hal yang sama hingga membuat pramugarinya jengkel dan mengucapkan pengumuman dengan nada yang rada tinggi seperti ini : ” KAMI MOHON AGAR PARA PENUMPANG TETAP DUDUK DIKURSI MASING – MASING SELAMA PENERBANGAN INI !!!!” setelah itu barulah tidak ada penumpang lagi yang mencoba  – coba ingin buang air dikamar kecil.
Setelah sekitar 90 menit penerbangan dengan guncangan, akhirnya pesawat yang saya tumpangi mendarat di Adisucipto dengan mulus dan lancar. Saya lalu mengucap syukur kepada Allah SWT karena telah mencapai tujuan dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.
Hal yang berbeda pernah saya rasakan ketika naik pesawat selain LCC yaitu Garuda Indonesia. Ketika itu saya dalam perjalanan pulang menuju ke yogyakarta sekembalinya dari kampung halaman. Saya naik pesawat dari balikpapan menuju yogyakarta via jakarta terlebih dahulu untuk transit. Didalam kabin pesawat, rasanya beda jauh dengan ketika naik LCC, kita mendapatkan full service dari awak kabin Garuda. Saya seperti mendapatkan pride kembali ketika naik garuda, kita diperlakukan layaknya seorang raja. Hal inilah yang selama ini tidak saya dapatkan ketika naik LCC.
Pelayanan yang minimalis sudah seharusnya tidak diikuti oleh perawatan pesawat yang minimalis, karena minimnya perawatan dapat membuat tingkat keselamatan menjadi menurun. Asalkan perawatannya memadai, maka tidak perlu lagi mengganti pesawat dengan yang baru.  Oleh sebab itu saya berharap di tahun 2009 ini dunia penerbangan Indonesia terus maju dan meningkatkan kualitas di berbagai aspek supaya kita tidak dipandang sebelah mata lagi oleh dunia Internasional…………..

2 thoughts on “Low Cost Carrier – Ketika Sebuah Kenyamanan dan Keselamtan dipertaruhkan

  1. Assalamu_’Alaikum Wr.Wb…

    Harga murah, Nyawa murah….

    Salam kenal dari ana…

    Wassalamu_’Alaikum Wr.Wb…

  2. @ ademaulana
    Makasih ya atas komen nya…..

    Iya bener, untuk itu sudah seharusnya tata dunia penerbangan di Indonesia ini diperbaiki,
    karena menjalankan usaha penerbangan tidak semudah dengan menjalankan moda transportasi lainnya….

    There is No Room For Error…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s