Sothel-sothel 2 : FX vs DX January 28, 2011
Posted by Radityo in Fotografi.trackback
DX Format & FX Format
Pada postingan yang dulu saya membahas mengenai tips and trick dalam membeli kamera digital, sekarang saya kembali akan “sothel-sothel” lagi menulis artikel tentang kamera digital yang kali ini khusus untuk SLR, dan lebih ke pengguna Nikon ( untuk yang laen juga boleh menyimak, hehehe ).
Sebenernya apa yang saya tulis ini mungkin sudah basi kali ya ( format DX dan FX red.) dan sudah banyak pembahasannya di internet , Cuma karena saya baru tahu akhir-akhir ini, maka saya akan menulis nya kedalam blog saya, dengan bahasa sendiri dan lebih sederhana tentunya. Jadi bagi para pengguna kamera SLR dengan merek Nikon, tentunya sudah sering membaca format DX atau FX pada lensa atau bodi kamera yang dimiliki. Sebenernya apa sih itu FX, DX ?? dan bagaimana bila kita beli lensa FX lalu dipakai pada bodi kamera DX dan sebaliknya lensa DX dipakai pada bodi kamera FX ??? mari kita telaah satu persatu.
Lensa berformat DX ( Nikon DX Format ) adalah lensa yang diperuntukkan bagi kamera dengan bodi berformat DX. Apa sebenarnya DX itu ?? Format DX adalah format yang diberikan oleh Nikon untuk kamera-kamera yang memiliki sensor kecil (APS-C) . Yang mana format ini equal dengan film 23.6 x 15.7 mm. Karena memiliki sensor yang kecil, maka ada sejumlah perbedaan antara format ini dengan format 35mm ( Full-frame ). Pada kamera dengan format DX, dikenal adanya cropping – factor. Dimana dengan ada nya faktor cropping ini maka ada perubahan pada panjang focal, Cropping –factor untuk semua format nikon DX adalah 1.5x. Dimana karena sensor gambar pada kamera ini kecil, maka panjang fokal nya juga akan menjadi lebih kecil. Penjelasan gampang nya adalah begini, jika sebuah lensa memiliki panjang fokal 28mm, maka jika dipasang pada kamera full-frame / 35mm akan menjadi lensa wide alias tetap 28mm. Namun jika dipasang pada kamera bersensor DX, maka ia setara dengan 1.5 x 28 = 40mm atau setara dengan lensa normal untuk bodi full-frame, jadi pada kamera DX, factor cropping 1.5x berfungsi sebagai pengali.
Kebetulan kamera yang saya pakai ( D5000 ) berjenis DX, dan lensa kit nya memiliki rentang fokal antara 18-55 mm dan format nya adalah DX. Maka rentang fokal sebenarnya yang didapat adalah equal dengan 27 – 82,5 mm ( karena adanya faktor cropping tadi ). Sehingga inilah yang menyebabkan kenapa para produsen biasanya membekali kamera SLR dengan kit yang memiliki fokal antar 18-55mm. Hal ini karena dengan kamera format DX, maka konsumen sudah akan mendapatkan lensa wide ( 27mm ), standar, dan tele standard ( 82,5 mm ).
Lalu apa itu format FX ?? Format FX adalah format yang diberikan oleh Nikon untuk jenis kamera yang memiliki sensor full-frame atau setara dengan kamera analog film 35mm. Pada kamera ini tidak ditemukan lagi adanya cropping-factor seperti pada format DX. Sehingga lensa yang dipasang pada kamera jenis ini, benar-benar murni memberikan rentang fokal sesuai yang tertera pada lensa tersebut.
Apa akibatnya jika lensa format FX dipasang pada bodi DX, ya tentunya seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Apapun jenis lensa nya, baik FX ataupun DX, jika dipasang pada kamera dengan bodi DX, maka akan memberikan factor cropping. Ambil contoh jika kita membeli lensa dengan fokal 50mm fix. Maka jika ia dipasang pada bodi DX, akan memberikan fokal yang sebenarnya di 75mm. Sehingga akan tampak lebih nge-zoom. Itulah sebabnya Nikon membuat lensa DX format dengan panjang fokal 35mm, dimana jika ia dipasang pada bodi DX akan memberikan fokal yang sebenarnya di 52,5mm, sehingga lebih pas jika kita mempergunakannya untuk kebutuhan fotografi sehari-hari.
Lalu apa yang akan terjadi jika lensa format DX kita pasang di kamera format FX atau 35mm full-frame ?? Yang akan terjadi adalah, pada gambar yang kita ambil akan menimbulkan efek yang disebut dengan vignetting. Dimana akan ada bagian gambar yang mengalami penurunan brightness dan saturasi (biasanya bagian pinggir ) jika kita bandingkan dengan brightness yang ada pada bagian tengah dari gambar yang diambil.
Hal ini (vignetting.red) mungkin bisa disebabkan oleh karena pada lensa DX, optiknya lebih kecil jika dibandingkan dengan lensa format FX. Sehingga hasil dari optik yang kecil tersebut akan ditangkap oleh sensor FX yang lebih besar, dan hasilnya adalah vignetting ( CMIIW
). Oya, untuk membedakan jenis FX dan DX bagaimana caranya ? yang pertama adalah untuk lensa jika dibelakang seri nya ada embel-embel DX, maka lensa itu diperuntukkan bagi kamera berformat DX ( APS -C ). Jika tidak ada embel-embel DX nya, maka lensa tersebut adalah bertipe FX ( ingat ini untuk keluaran nikon saja ), sedangkan untuk kamera ( body ) saat ini nikon baru mengeluarkan dua buah kamera yang berformat FX yaitu seri D3 dan D700, sedangkan sisanya masih menggunakan format DX semua.
Perhatikan gambar diatas, yang warna merah adalah sensor FX dan yang berwarna biru adalah sensor DX. Jika lensa DX dipasang pada sensor FX, maka sensor FX yang terlampau besar hanya akan mampu menangkap object yang ditangkap oleh lensa DX yang memiliki cakupan kecil –> berakibat vignetting. Sedangkan jika lensa FX kita pasang pada sensor DX, maka hanya sebagian saja yang dapat ditangkap oleh sensor DX tersebut ( efek cropping ).
Lalu apa kelebihan dari format FX dan DX, ya jika dilihat dari penjelasan sebelumnya maka lensa dengan format FX akan memberikan keuntungan untuk kebutuhan wide-photography. Sedangkan untuk format DX, dengan bantuan factor-cropping nya maka akan memberikan keuntungan untuk kebutuhan tele-photography. Misalnya kita membeli lensa dengan panjang fokal 200mm, maka jika dipakai di DX akan menjadi setara 300mm. Selain itu masalah biaya juga menjadi aspek yang penting, dimana untuk biaya pembuatan sensor FX yang lebih besar daripada DX membutuhkan biaya yang besar baik untuk lensa maupun bodi kamera. Hal ini yang menjadi sebab bahwa kamera FX atau full-frame masih mahal hingga saat ini.
Akhir kata, apapun jenis format lensa maupun bodi nya tetap berpedoman pada “man behind the gun” nyalah yang paling menentukan, pilihlah apa yang sesuai dengan kebutuhan anda,






thank’s infonya. jadi kesimpulannya apabila d7000 saya dipasangi lensa Nikon AF-S 28-300mm f/3.5-5.6 ED VR hasilnya akan sama dengan 42-450mm (dalam fx kamera) ?
dan dari pihak lensa maupun kamera tak akan mendapat masalah ?
@Abe : Setau saya D7000 beformat DX, sehingga bila anda menggunakan lensa AF-S 28-300 ya nanti ekivalen dengan rentang 42-450mm…..nah kalau di pasang pada kamera yang FX seperti D700 atau D3, maka lensa nya tetap di rentang 28-300mm, sejauh itu bukan lensa tipe DX…tidak masalah asalkan itu memang diperuntukkan untuk body Nikon, untuk jelasnya coba cek di buku panduan dari kamera tersebut
siang gan….
saya rencananya mau beli nikon D7000 body only
cuma saya mau beli lensa
NIKON AF-S 70-300MM F,4,5-5,6G IF-ED VR
NIKON AF-S 18-55MM F 3,5-5,6G VR DX WHITE BOX
NIKON AF-S 35M F 1,8G DX
Yang ingin saya tanyakan apakan ketiga2 lensa bisa dipergunakan sesuai kemampuannya karena yang 70-300 tidak ada dx nya…. Untuk dalam studio saya yg tidak begitu luas, lensa berapa biar gambarnya bisa maksimal dlm frame
awalnya saya udah punya 18-105 yang bawaan nikon D90.
@Adeg Menurut saya 18-105 itu sdh mencukupi mas, karena sdh memiliki rentang dari normal sampai tele. kalau anda menggunakan 70-300 ya nanti tinggal dikalikan aja dengan faktor crop 1.5 nya akan ketemu rentang ekivalennya, mungkin untuk primenya lensa 35 mm f1.8G DX itu bisa dibilang cocok utk kebutuhan foto sehari-hari karena nanti hasilnya akan ekivalen dengan 50mm, penggunaan lensa juga tergantung kebutuhannya mas, saya sendiri kurang paham untuk penggunaan didalam studio, itu saja yang bisa saya bantu usul…
[...] Source #1 Source #2 Source #3 Like this:LikeBe the first to like this [...]